Arti di Balik Nama Conqueror Serendipity

Kenapa nama blog ini dinamakan Conqueror Serendipity? Bagi mereka yang mengerti arti kedua kata tersebut, tentunya dua hal ini sebenarnya tidak berhubungan.


Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Paranormal Ch. 2 : Gadis dengan Payung Merah

http://s3.fotografer.net/images/thumb_m/0/32/32612.jpg?id=2

Prolog

Manusia pada umumnya memiliki kecintaan pada suatu benda, mereka menyebutnya sebagai hobi mengkoleksi sesuatu. Tapi sebagian manusia suka melekat pada suatu benda, bahkan kadang mereka merasa benda itu telah menjadi bagian dari hidupnya, entah itu sebuah rumah, mobil atau bahkan barang-barang remeh seperti payung.
Bagaimana jika sesuatu yang membuat anda tertarik, justru mengubah hidup anda menjadi sesuatu yang tidak pernah anda bayangkan sebelumnya?
Bagian Dua : Gadis dengan Payung Merah
Marceline, Seorang remaja yang baru saja mulai merasakan bangku kuliah. Dia berhasil masuk ke jurusan seni, bidang yang selama ini selalu ditekuninya dengan baik. Marceline sedang duduk dan menangis di kamarnya karena masalah aneh yang sedang dialaminya. Dia benar-benar sudah tidak tau harus berbuat apa lagi. Marceline sebenarnya hanya gadis biasa sama seperti remaja seusianya pada umumnya, hanya saja suatu kejadian yang belum lama ini membuat hidupnya berubah.
Kita kembali ke dua bulan yang lalu, Marceline sedang menikmati liburannya dengan berjalan-jalan ke kota tetangga bersama dengan pacarnya Tony. Beberapa hari lagi mereka akan segera mulai masuk kuliah, jadi mereka memutuskan untuk berwisata. Di kota yang mereka datangi, sedang ada parade daerah. Sebagai pencinta kesenian tentu Marceline tidak ingin melewatkan hal ini. Semua rencana berjalan dengan mulus dan dia sangat bahagia. Ketika dalam perjalanan menuju stasiun kereta untuk pulang ke kotanya, Marceline melihat sebuah toko Antik yang menjual benda-benda yang berseni.

http://202.67.224.137/sgimage/27/44027_sung-kim-antique-shop-42424.jpg
Tony juga seorang yang mencintai seni, justru seni yang membuat dia bisa mengenal Marceline karena itu dia mengajak kekasih tercintanya untuk mengunjungi toko itu. Pasangan muda ini tidak tau, bahwa pilihan yang mereka buat adalah kesalahan besar. Marceline dan Tony akhirnya masuk ke toko tersebut, nampak seorang bapak yang wajahnya begitu ramah. Tony berkeliling untuk melihat-lihat seisi toko, namun Marceline tidak demikian. Mata Marceline langsung terpaku pada sebuah Payung yang berada di dekat Bapak penjaga toko. Payung itu berwarna merah, dengan ukiran bunga yang begitu indah. Tangkainya dari bambu, walau nampak rapuh namun cukup kuat untuk melawan hujan. Marceline nampak berkaca-kaca melihat payung itu, si Bapak pemilik toko memandangnya kemudian mengambilkan payung tersebut. " Sungguh mata yang jeli, Gadis yang sungguh mengerti seni." Bapak itu menyerahkan payung merah kepada Marceline sambil terkekeh. Bapak itu menjelaskan bahwa payung ini akan membawa keberuntungan, dengan bayaran yang pantas. Marceline sangat bersemangat setelah memegang payung itu. Tony tidak menemukan apa yang bisa menarik perhatiannya. Ketika mereka bertanya berapa harga payung tersebut, Bapak itu mengatakan bahwa dia akan mendapatkan bayarannya pada waktunya. Tony dan Marceline terlihat bingung, Bapak itu menambahkan " Anggap saja hadiah dari bapak tua ini, untuk pasangan yang begitu mesra." Bapak itu kemudian tersenyum.
Mereka akhirnya pulang naik kereta. Marceline sangat puas, semua rencana berjalan lancar, dia dan pacarnya bisa menikmati waktu bersama dengan indah, bahkan kini dia membawa pulang kenang-kenangan berupa payung cantik. "Oh, hari ini tidak mungkin bisa jadi lebih baik!" Teriak Marceline di dalam kereta, semua penumpang yang di dekatnya melihat ke arah tempat duduknya. Tony hanya tersenyum, dia sudah terbiasa dengan kelakuan kekasihnya.

http://img03.taobaocdn.com/bao/uploaded/i3/18736022498837431/T15qmsXqtdXXXXXXXX_!!0-item_pic.jpg_310x310.jpg
Hari-hari berlalu sejak saat itu, akhirnya kuliahpun di mulai. Tempat tinggal Marceline jauh dari kampus, sehingga dia memilih untuk tinggal dia di asrama, ternyata dia begitu beruntung karena teman sekamarnya adalah Sella, sahabat karibnya. Sella dan Marceline telah berteman bertahun-tahun dan juga sangat dekat. Mereka juga bersekolah di SMP dan SMA yang sama dan sekarang di Universitas yang sama. Bedanya Marceline memilih jurusan seni sedangkan Sella di jurusan Managemen. Marceline mulai percaya dengan keberuntungan yang didapatnya berasal dari Payung merah yang dia dapatkan di toko antik itu. Dia menjadi begitu menyukai payung itu, akhirnya dia juga membawa payung itu ke kamar asrama. Bahkan Sella memuji keindahan payung merah itu. Suatu malam turun hujan gerimis dan saat itu Sella sedang ingin ke warung, Marceline mengatakan bahwa sebaiknya Sella menggunakan payung merah itu. Kemudian Sella pergi ke warung  dengan payung itu, semua awalnya nampak baik-baik saja.

Hari-hari ospekpun di mulai, keberuntungan Marceline berlanjut. Kecantikan Marceline ternyata menjadi sorotan banyak senior di jurusannya, sehingga dia diperlakukan seperti seorang putri di masa ospeknya. Dia pun melewati masa ospek dengan mudah. Malam setelah ospek selesai, Marceline menyadari perubahan pada diri Sella, temannya yang satu ini sebenarnya jauh lebih cantik darinya namun sepertinya Sella mengalami banyak kesulitan dalam masa ospeknya. Beberapa hari berlalu, Sella selalu nampak lemah dan lesu, sampai akhirnya hari itu tiba. Marceline baru saja pulang dari kampusnya, ketika membuka pintu kamarnya tercium bau yang tidak sedap.Sungguh terkejut dirinya menemukan Sahabat baiknya, Sella sedang tergantung di kamar mandi. Sella bunuh diri! Satu asrama menjadi panik hari itu, tidak perlu waktu lama untuk polisi memecahkan kasus bunuh diri ini. Sella ternyata menulis surat sebelum dia meninggal, bahwa dia telah di lecehkan beberapa seniornya saat ospek, dia menulis nama-nama mereka. Setelah melakukan otopsi ternyata memang Sella mengalami pelecehan seksual, para senior itu pun segera di tahan. Marceline begitu terpukul dengan apa yang menimpa Sahabat karibnya itu, dia menangis di dalam pelukan Tony.

http://mihaperosa.com/blog/wp-content/uploads/2008/01/kmojca_portoroz_red_16december07_by-miha-perosa_img_2234web.jpg

Marceline pindah dari asrama ke sebuah kost, kamar kostnya bersebelahan dengan kamar Tony. Dia merasa lebih aman di dekat kekasihnya itu. Semua berjalan lancar, hubungan mereka semakin erat dengan kebersamaan mereka akhir-akhir ini. Tony mendapatkan tugas fotografi dari salah satu mata kuliahnya, dia meminta Marceline menjadi model fotonya. Sesi pemotretan berjalan lancar, kemudian Marceline meminta agar dia di foto dengan payung merah kesayangannya. Tony pun mengambil beberapa foto. Malam harinya ketika Tony sedang melihat hasil pemotretannya, dia terkejut dengan hasilnya. Dia langsung memprint beberapa foto kemudian menelpon Marceline, bahwa dia ingin memperlihatkan sesuatu padanya. Tony pun segera berjalan pulang menuju kostnya.

Saat itu Marceline sedang kebingungan, apa yang ingin ditunjukan oleh Tony kekasihnya itu. Dia menunggu di kamarnya, dan menunggu. Anehnya Tony tak kunjung tiba, kemudian dia pun mencoba menghubungi handphonenya, tapi panggilannya tidak di angkat oleh Tony. Mungkin dia masih di perjalanan. Marceline melakukan panggilan beberapa kali lagi, namun nihil. Tiba-tiba ada handphonenya berbunyi dan Marceline melihat itu adalah nomor Tony, " Kamu kemana aja? kok lama banget?" Marceline langsung berbicara dengan nada kesal. " Maaf, apa anda mengenal pemilik handphone ini?" Terdengar suara asing di ujung sana. Marceline bercakap-cakap ternyata itu panggilan dari polisi, Marceline di minta segera ke Rumah Sakit Cemara yang tidak jauh dari kostnya, bergegaslah dia kesana.

Tidak butuh waktu lama untuk mencapai Rumah Sakit tersebut. Marceline kembali mendapatkan sebuah kejutan buruk. Tony ternyata mengalami kecelakaan, dan dia baru saja menghebuskan napas terakhirnya tepat ketika Marceline sampai. Polisi menyerahkan beberapa barang milik Tony, termasuk kantong plastik yang berisi beberapa foto, begitu dia lihat sekilas itu adalah foto dirinya. Dia langsung menangis tersedu-sedu.
Tidak lama kemudian datang keluarga Tony, Orangtua Tony pun sangat terpukul dengan kepergian mendadak seperti itu.

Beberapa hari telah berlalu sejak kecelakaan mengerikan itu, kita kembali ke awal cerita ketika Marceline duduk di kamarnya dan menangis. Dia masih belum dapat menerima apa yang telah terjadi. Pikirannya kosong, kehilangan dua orang yang penting dalam hidupnya dalam waktu yang singkat membuatnya sangat terpukul. Perlahan-lahan Marceline mulai menerima keadaannya, dia juga berpikir bahwa dia tidak dapat begini terus. Dia harus tetap menjalani kehidupannya. Dia melihat payung merah yang ada di sudut ruangan, dia memeluknya erat-erat dan seolah-olah payung itu memberinya kekuatan dan semangat baru. Bagaimanapun payung ini adalah kenangan perjalanan dia yang terakhir bersama Tony.

http://unisyifa.blogdetik.com/files/2013/03/b939fc5c263d47e5907c5c441950be1c_perpisahan.jpg

Hari-hari terus berlalu sejak kejadian itu, tidak terasa telah dua bulan berlalu sejak kecelakaan Tony. Marceline sendiri telah mulai dapat bangkit dari kesedihannya, banyak cerita baru selama dua bulan ini. Dia mendapatkan sahabat-sahabat baru, dia menjadi bintang di kelasnya dan juga menjadi Mahasiswi kesayangan Dosen killernya. Keberuntungan Marceline seolah tidak ada habisnya, terus bermunculan sambung menyambung keberuntungan demi keberuntungan. Di sisi yang lain orang-orang disekitarnya terus mendapatkan petaka, dia lambat laun menyadari hal itu. Teman barunya Josep ditinggal oleh pacarnya yang telah menjalani hubungan 5 tahun tanpa alasan yang jelas, Dosen killernya tiba-tiba mendapatkan stroke. Perlahan tapi pasti dia mulai menyadari ada sesuatu yang salah disini.

Suatu hari ketika sedang duduk sendiri di kostnya, Marceline melihat sebuah kantong plastik. Dia teringat itu berisi foto-foto dari Tony, hampir saja dia melupakan hal itu. Air kembali mengenangi matanya mengingat kekasihnya yang telah tiada, dia menguatkan hatinya kemudian melihat kenangan terakhir dari Kekasihnya itu. Betapa terkejutnya dia dengan hasil foto itu, ternyata inilah yang ingin dilihatkan oleh Tony. Di setiap foto Marceline yang sedang menggunakan payung merah, ada bayangan hitam yang mengerikan dibelakangnya, dan di satu foto terakhir terlihat ada dua tangan yang sedang ingin mencekik leher Marceline. Dia langsung melihat payung merah itu, dia begitu ketakutan. Dia segera mengambil payung itu dan membuangnya, kemudian dia lari. Marceline bingung dengan apa yang telah terjadi, dia merasa itu semua adalah kesalahannya. Andai dia tidak pernah mengambil payung itu. Dia terus berlari dan berlari, tanpa memikirkan orang-orang yang melihatnya. Langit menjadi gelap, hujan turun rintik-rintik. Marceline pun menenangkan dirinya, dia berteduh di salah satu cafe. Dia duduk dan memesan segelas kopi. Marceline nampak begitu lelah, dadanya sakit bukan karena berlari namun karena apa yang telah dia lihat.

http://24.media.tumblr.com/tumblr_ljey7yjMsv1qa9jx4o1_500.jpg

Marceline kembali tenang, dia telah membuang payung itu. Semua akan baik-baik saja itulah yang dia pikirkan. Ketika dia melihat ke jalanan melalui kaca cafe, dia melihat seorang pria berbadan besar menggunakan mantel sedang berdiri menatapnya. Marceline memandang gelas kopinya, " Kenapa pria itu menatapku?" ketika dia melihat kembali ke jalanan, pria itu hilang. Marceline pun menghebuskan nafas lega, dia pun mulai kembali meminum kopinya. Tanpa dia sadari, pria yang tadi menatapnya telah duduk di samping mejanya. Pria itu memesan segelas teh, suasana menjadi hening. Marceline tidak mau berpikir bahwa pria ini memang mengincar dirinya, jadi dia pun bersikap santai. Pria itu dengan tenang menikmati tehnya, kemudian wajah pria itu menjadi cerah karena di hiasi senyuman dan membuat perasaan menjadi damai. Marceline terkejut dengan perubahan yang terjadi di wajah pria itu, ketika dia sedang menatap pria itu meminum tehnya, pria itu pun kembali membalas tatapannya. " Selamat siang nona, Nama saya Ron." Pria itu tersenyum pada Marceline, dan gadis ini pun mengangguk dengan salah tingkah.

Ron pun berdiri dari mejanya dan pindah ke meja Marceline, dan dia mengeluarkan sebuah kantong plastik. Marceline cukup terkejut dengan apa yang terjadi tapi dia berusaha tenang. " Nona, apa anda sadar nyawa anda sedang terancam?" Marceline menjadi kaku mendengar kata-kata itu, tubuhnya mulai gemetar karena ketakutan. Dia mulai berpikir bahwa jangan-jangan di dalam kantong plastik itu adalah bom. Ron hanya tersenyum melihat reaksi Marceline, " Nona, saya harap anda membawa kantong ini. Barang ini akan membantu nona, jadi jangan di buang." Setelah meletakan kantong itu, Ron pun berdiri kemudian pergi dari cafe itu. Marceline pun berpikir ingin pulang, terkejut juga dia ternyata Ron tidak membayar tehnya jadi Marceline yang harus membayarkan tagihan si Pria itu. Dalam perjalanan pulang, dia mulai ragu dengan kantong plastik dari Pria yang bahkan tidak membayar minumannya. Namun dia merasa memang harus membawa kantong itu.

Marceline berjalan keluar dari cafe, dia kemudian berjalan dan terus berjalan. Sampai di depan sebuah salon dia melihat pantulan dirinya di cermin, begitu kusam dan kotor karena dia berlari tadi. Menyadari hal itu, dia pun berjalan pulang. Dia pun tiba di kostnya, dia melihat ke tempat sampah yang tadi dilemparinya dengan payung merah itu. Payung merah telah hilang dari sana, seseorang telah mengambilnya. Marceline merasa bersalah, seharusnya dia membuang payung itu lebih jauh. Dia mengambil nafas dan mulai melangkahkan kakinya ke kamarnya, ketika dia membuka pintu betapa terkejutnya dia melihat payung merah itu ada di dalam kamarnya dan sedang dalam keadaan terbuka, Marceline dengan cepat kembali menutup pintu kamarnya. Nafasnya menjadi tidak teratur dengan apa yang dia barusan lihat. "Ah, tidak mungkin! Aku sudah membuangnya." Marceline kemudian membuka pintu kamarnya dengan perlahan-lahan, dia mengintip dari balik pintu, tidak ada payung itu. Payung yang barusan dia lihat telah hilang. Dia pun membuka dengan lebar pintu kamarnya dan ternyata memang tidak ada lagi payung itu. Marceline pun masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba saja pintu tertutup dengan sendirinya. Ternyata payung itu bersembunyi di balik pintu! Marceline langsung histeris dan menjauh dari pintu. Di lihatnya payung itu terbuka, kemudian keluar sebuah tangan yang nampak berlendir, perlahan-lahan keluar kepala seorang wanita, rambutnya berantakan dan wajahnya gelap. Wanita itu telah keluar seutuhnya dari payung, dia mendekati Marceline dengan tangan yang ingin mencekik leher gadis malang itu. Marceline terpojok ke dinding, tubuhnya kaku. " Apa aku akan mati seperti ini?" Air mata mengalir membasahi pipinya, dia teringat dengan kantong yang dibawanya. Dia membuka kantong itu, isinya adalah abu. Marceline kesal, ternyata isi kantong ini hanyalah abu, tapi tidak ada cara lain dia mengambil segenggam abu itu dan melemparkannya ke arah Hantu Payung itu, karena jarak mereka masih cukup jauh hanya sedikit saja abu yang terkena ke hantu payung itu. Ketika terkena abu itu, Hantu itu langsung menjerit ke sakitan, dan terjatuh ke lantai. Marceline tidak menyangka abu itu efektif. Dia langsung menuangkan seluruh sisa abu ke hantu payung yang sedang kesakitan itu, Tubuh hantu itu langsung terbakar habis setelah terkena abu itu. Marceline terduduk, melihat hantu itu terbakar di depan matanya sampai habis. Dia melihat payung merah itu ikut terbakar, sampai tersisa rangkanya saja. Ternyata di tumpukan abu yang di tuangkan Marceline ada secarik kertas berisi nomor handphone dari Pria misterius yang menolongnya.

Singkat cerita, Marceline kemudian menelpon Ron. Pria itu datang bersama seorang asisten, untuk mengambil kerangka payung merah itu. Ron mengatakan pada Marceline bahwa sekarang gadis itu bisa tenang, dan Ron juga turut berduka atas kehilangan yang di alami Marceline.

Sebulan berlalu sejak kejadian itu, semua kembali normal. Marceline kini menjadi gadis biasa kembali, hanya dengan sebuah pengalaman mengerikan pernah singgah dalam hidupnya. Walau semua telah membaik, dia tidak pernah lupa bahwa selalu ada sesuatu disekitarnya, sesuatu yang tidak bisa kebanyakan orang lihat dan jika dia terlibat lagi dengan sesuatu itu. Dia tau siapa yang dapat menolongnya.

Bersambung..

Paranormal Ch. 1 : Pria yang Hidup di Balik Bayangan



 Prolog

Hantu, sebuah kata sederhana namun menyimpan banyak cerita. Kebanyakan orang tidak bisa melihat mereka, bahkan tidak percaya mereka ada. Namun bagi mereka yang berkata tidak percaya sekalipun dalam hati kecil mereka pasti pernah merasakan kehadiran mereka. Kita dapat menerimanya atau tidak, mereka tetap selalu ada di sekitar kita. Terkadang sebagian orang harus berurusan dengan mereka. 
Ada sedikit manusia yang memiliki bakat sejak lahir yang memudahkan mereka berkomunikasi dengan makhluk dunia lain, dan kisah ini adalah cerita tentang bagaimana seseorang berasal dari kelompok itu membantu orang-orang yang harus berurusan dengan Makhluk - Makhluk ini.
Bagian Satu : Pria yang Hidup di Balik Bayangan
Pagi yang cerah, hari yang berjalan seperti biasanya. Itulah yang sedang dipikirkan seorang pria yang berpakaian kemeja rapi dan sedang berjalan cepat menuju tempat dia bekerja. Hendra, begitulah dia dipanggil, hidup dalam perantauan demi mengadu nasib di kota besar. Dia bekerja sebagai staff administrasi di sebuah perusahaan tambang terkemuka. Karena prestasinya dalam bekerja dia menjadi tangan kanan atasannya yang terkenal cukup bermasalah di kantornya. Selama ini dia selalu hidup normal seperti manusia kebanyakan lainnya. Tapi sepertinya arus kehidupannya mulai berubah.
Hendra akhirnya sampai di depan kantornya, terlihat ada seorang pria menggunakan kerudung hitam sedang berdiri menatap gedung kantor Hendra. Pria berkerudung itu melihat Hendra, wajahnya tidak nampak jelas. Pria itu membalik badannya kemudian pergi sambil membawa sebuah koper besar. Mungkin seseorang yang ingin bekerja di perusahaan ini.

http://blog.50mm.jp/wp-content/uploads/2010/10/salary-man.jpg
Hendra pun masuk ke kantornya, dia langsung menuju ke meja kerjanya. Dia membereskan mejanya untuk persiapan mengerjakan tugasnya. Baru saja dia menyalakan PCnya, seorang rekan kerjanya mendekatinya. "Hen, kamu dipanggil Pak Agung ke ruangannya sekarang." Hendrapun hanya mengangguk kemudian segera menuju ke ruangan atasannya itu. Hendra mengetuk pintu, kemudian ketika dia membuka pintu nampak Pak Agung sedang bersama seorang tamu pria. Baju tamu ini nampak sedikit berantakan, Kemejanya keluar dari celananya. "Hendra, kamu sudah tiba. Silahkan kamu tunggu sebentar di luar." Pak Agung meminta Hendra untuk menunggunya di luar. Hendrapun keluar dan duduk di kursi yang tidak jauh dari ruangan Atasannya. Dalam duduk diamnya, dia mengingat kembali, tentang gosip yang beredar di Kantornya, tentang Pak Agung yang suka dengan sesama jenis. Terdiam sebentar dalam pemikirannya, cepat-cepat Hendra menepis pikiran itu. " Mau dia suka sesama jenis atau apapun, itu bukan urusanku." pikir Hendra dalam hati, " Selama bukan aku korbannya." Dia menambahkan dalam pikirannya. 
Hendra menunggu sambil menatap pintu ruangan pak Agung. Tidak lama kemudian pria yang menjadi tamu itu keluar dari ruangan dan meminta Hendra untuk segera masuk. Hendrapun segera melangkah ke ruangan itu. Ketika dia masuk, tampak Pak Agung sedang membenarkan dasinya. "Hendra" Pak Agung menatap Hendra, kemudian tersenyum " Saya ingin kamu menemani saya ke Site yang baru kita tebus minggu lalu." Pak Agung berdiri kemudian melemparkan kunci kepada Hendra, " Kamu yang menyetir" Pak Agung segera menyiapkan kopernya, sedangkan Hendra masih terdiam " Pak Agung, bukankah site yang baru itu jauh?" Hendra nampak tidak siap dengan tugas keluar kota yang mendadak. Pak Agung memegang tangan Hendra kemudian mengiringnya keluar ruangan, " Tenang saja, semua sudah dipersiapkan" katanya sambil menepuk pundak Hendra untuk menyakinkan bawahannya yang satu ini.

http://lexyleksono.files.wordpress.com/2011/01/macet1.jpg

Perjalanan tidak begitu lancar, karena macet yang sangat parah. Pak Agung menjelaskan bahwa mereka akan menginap di sebuah Rumah Dinas dan ke esokan paginya baru ke site. Karena site yang baru berada di daerah terpencil, mereka harus istirahat dulu di pemukiman yang berada di dekat lokasi. Hendra nampak kurang semangat karena harus melalui kemacetan ini. Pak Agung yang duduk di belakang nampak menguap, Hendra mengintip melalui Spion tengah nampak Pak Agung mulai merebahkan badannya untuk tidur. Hendra tetap fokus di jalanan. Hari sudah mulai sore, karena tidak makan siang Hendra nampak lemas. Dia melihat ada sebuah restoran Fast Food. Hendrapun memanggil Pak Agung, namun beliau sudah tertidur lelap. Hendra kemudian menoleh kebelakang, tiba-tiba dia melihat seorang wanita sedang duduk di samping Pak Agung! Wajah wanita itu menyeramkan, penuh dengan luka sayatan. Hendra kemudian membanting setir dan menabrak tepi jalan. Pak Agung terbangun karena kejutan itu. Hendra melihat kembali ternyata wanita itu sudah tidak ada. Pak Agung bertanya apa yang terjadi, kemudian Hendra menceritakan apa yang dia lihat. Pak Agung mengeleng-geleng kepala. Dia mengatakan bahwa Hendra terlalu lapar hingga berhalusinasi. Akhirnya Hendra menyetir ke restoran Fast Food dan membeli 2 paket makanan untuk mereka berdua.

Hendra nampak lebih tenang, dia mulai yakin itu hanya halusinasinya. Setelah perutnya kenyang, dia tidak melihat ada yang aneh lagi. Perjalanan berlanjut, mereka sudah sampai jalan keluar dari kota sehingga kemacetan sudah berkurang banyak. Jam di mobil menunjukan waktu 18.07 dan saat itu mulai turun hujan rintik-rintik. Mobilpun melaju cukup kencang, langitpun semakin gelap. Hujan turun sangat lebat, walaupun hampir tidak ada mobil di jalanan tapi mobil Hendra tidak bisa melaju cepat karena licinnya jalan. Dalam perjalanan terlihat seorang pria sedang berjalan sambil menggunakan payung, dia berjalan di tengah hujan yang begitu lebat. Hendra memelankan mobilnya, lalu melihat Pak Agung. Atas persetujuan dari Pak Agung, akhirnya Hendra memberhentikan mobilnya tepat di sebelah pria berpayung itu. " Selamat malam, Apa anda butuh tumpangan?" Hendra menanyakan pada pria berpayung itu. Awalnya Pria itu menatap Hendra sambil tersenyum, lalu berkata " Terimakasih, Saya memang membutuhkannya" Kemudian pria itu membuka pintu mobil bagian belakang, ketika dia hendak masuk dan duduk di sebelah Pak Agung dia menjadi terdiam sejenak." Sebaiknya saya duduk di depan, jika bapak tidak keberatan" Dia kembali tersenyum dan kemudian menutup pintu mobil dan duduk di sebelah Hendra.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7b3njChKg9uaWuO2t5UJd-Ofszl7Iutt1jIfCB3elIU1WGk1g-wosDeRE68JONBlaK49t721h-zewUET-MKOUtay5L7RtDebNna3wJNW44Pu5RdtcQDPHVaS_G6hxhd7OzXvzHnIFz6Q/s1600/_DSC1959.JPG

Hujan begitu lebat, sehingga jalan menjadi susah terlihat walau dengan bantuan penerangan mobil sekalipun. Pria itu akhirnya memperkenalkan diri sebagai Ron, Dia sedang melakukan perjalanan melihat dunia. Hendra berpikir, usia mereka tidak berbeda jauh namun Ron masih bisa bertualang seperti ini, sedangkan dia harus menjalani rutinitas kantor. Pak Agung mengajak Ron untuk ikut tinggal di Mes malam ini, dan Ron berterimakasih atas kebaikannya. "Sungguh jarang bisa bertemu orang seperti anda, Hendra." Ron menatap Hendra dengan tatapan yang dalam. " Saya juga pasti membalas kebaikan Bapak" kata Ron sambil menghadap ke belakang.

Hendra konsentrasi menyetir namun tiba-tiba terlihat wanita yang sedang berdiri di tengah jalan. Kecepatan mobil tidak dapat di turunkan lagi, akhirnya wanita itu tertabrak. Hendra dan Pak Agung langsung histeris, Pak Agung spontan keluar dan mencari wanita itu namun tidak ditemukan. Akhirnya Pak Agung kembali ke mobil dengan basah kuyup. Ron nampak begitu tenang, " Kenapa kamu tidak terkejut?" Hendra bertanya pada Ron. Dia hanya tersenyum dan menjelaskan bahwa itu adalah kisah yang diceritakan orang-orang ketika melewati jalan ini, namun selama ini belum menelan korban jiwa, jadi dirasa tidak ada yang perlu di khawatirkan. " Saya telah bertualang ke banyak tempat, mungkin itu yang membuat saya tidak terkejut" Ron kembali tersenyum dengan senyum khasnya. Kedua teman perjalanannya itu akhirnya hanya bisa terdiam.

Sisa perjalanan menjadi sunyi senyap karena kejadian yang baru terjadi. Akhirnya mereka memasuki pemukiman lagi. Rasa lega jelas terpancar di wajah Hendra, hari ini cukup melelahkan di tambah dengan pengalaman barunya yang jelas tidak menyenangkan untuknya. Pak Agung mengarahkan bahwa Ron bisa berbagi kamar dengan Hendra di Mes nanti. Tidak perlu waktu lama, mereka telah tiba di tempat yang di maksud. Hujan masih tetap lebat.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgshf_QhNplPRYEtriBObSBUEqhC6r5UnsyGe-bvs4Rz08PAOWojtq_Kcllv1Zer3HHggtyVckjC7cPrkV5RlV5jrLDnKLCppePB2bCAhtl4JArouqlx2e-iThy2Yn671G4m6itMyEFR-Yo/s1600/DSCN6599.JPG

Ron dan Hendra menuju ke kamar mereka, sementara Pak Agung masih duduk di ruang tamu. Wajah Pak Agung seperti penuh dengan pikiran, wajahnya nampak begitu pucat. Hendra menemukan bahwa kamar mereka cukup berantakan namun masih nyaman untuk di tinggali. Setelah meletakan barang-barang bawaan, Ron dan Hendra menuju ke dapur untuk memasak makan malam. Ketika sedang memasak mie instant, tiba-tiba Hendra mendengar suara dari jendela yang ada di dapur. "Ron, kamu dengar suara dari jendela itu?" Hendra menunjuk jendela yang dimaksud, Ron melihat ke arah jendela itu " Mungkin hanya angin saja." Kemudian Ron kembali konsentrasi memasak. Tiba-tiba Pak Agung masuk ke dapur, dan minta di buatkan teh manis, dia minta agar gulanya diberi cukup banyak kemudian dia keluar dari dapur. Hendra membuatkan teh manis itu kemudian berjalan menuju ke ruang tamu. Ketika sedang berjalan menuju ruang tamu, tiba-tiba lampu sedikit meredup kemudian menyala seperti biasa kembali. Hendra menyerahkan teh manis itu kepada Pak Agung, " Pak, Ini teh manis pesanan bapak." Pak Agung kemudian menatap Hendra dengan wajah yang nampak kebingungan. " Hendra, Bapak kan diabetes. Tidak bisa minum teh manis. Kapan saya pesan teh?" Pak Agung mengutarakan kebingungannya, sekarang gantian Hendra yang bingung."Lho, bukannya tadi bapak ke dapur lalu minta dibuatkan teh?" Pak Agung mengeleng, dia tidak ada ke dapur tadi. Dari dia sampai dia hanya duduk di ruang tamu. Ketika Hendra mengangkat gelas teh itu, Ternyata gelas itu sudah kosong. Gelas yang seharusnya berisi teh manis itu kini menjadi kosong melompong! Hendra langsung terkejut, namun berhasil menyembunyikan keterkejutannya. Dia pun bergegas kembali ke dapur.

Hendra melihat Ron sedang memindahkan Mie Instant yang sudah matang ke mangkok. "Hei Ron, tadi kamu ada lihat Pak Agung memesan teh manis kan?", Ron nampak bingung, "Memangnya ada ya? tadi kamu tiba-tiba membuat teh manis, kupikir kamu yang mau minum." Ron mencari sendok untuk makan, sementara Hendra mulai merasakan perasaan yang tidak enak. "Ayo Makan Mienya" Ron mengajak Hendra untuk makan, kemudian mereka berduapun makan. Hendra makan dengan perasaan yang tidak nyaman.

Setelah makan Ron dan Hendra masuk ke kamar mereka, setelah sedikit berbincang Ron nampak begitu lelah. Hendra kemudian memutuskan untuk istirahat, Ron tidur menghadap ke dinding. Hendra menatap langit-langit kamar, perasaannya tidak nyaman. Dia merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Perasaan itu membuatnya tidak bisa tidur. Tiba-tiba terdengar suara yang aneh dari luar. Hendra pun keluar dari kamar, mencari sumber suara tersebut.

Hendra berjalan menuju ke arah dapur, ternyata suara itu berasal dari kamar Pak Agung yang berada dekat dengan dapur. Tiba-tiba Pak Agung keluar dari kamarnya, wajahnya nampak pucat. Dia melihat Hendra," Kamu belum tidur?" Pak Agung bertanya kepada Hendra dengan suara yang kecil. " Sebentar lagi Pak, saya mau ambil minum." Pak Agung tidak menjawab dan langsung kembali masuk ke kamar. Hendra merasa ada yang aneh dengan atasannya itu. Hendra ke dapur untuk minum. Tiba-tiba keran air menyala sendiri, Hendrapun terkejut. Dia segera mematikan keran air itu. Perasaan Hendra semakin tidak nyaman, dia pun segera kembali ke kamar.

Sesampainya di kamar, nampak Ron sudah tertidur. Hendrapun mencoba untuk tidur juga. Dia berbaring da memejamkan matanya. Belum lama dari dia memejamkan matanya, rasanya ada sesuatu yang berat di perutnya, pelan-pelan dia membuka mata. Di lihatnya seorang wanita cantik sedang duduk di atas perutnya. Wanita itu meletakan kedua tangannya di dada Hendra, lalu bergerak naik ke atas. Hendra hanya menatap wanita itu, tubuhnya tidak bisa digerakan. Tangan wanita itu terus naik sampai ke leher Hendra lalu wanita itu mencekiknya. Wajah wanita yang cantik itu berubah menjadi pucat, penuh dengan bekas luka sayatan. Hendra meronta-ronta kesakitan. Tiba-tiba ada cipratan air yang mengenai wajah wanita itu, dan dia langsung melepaskan tangannya dari Hendra dan menutupi wajahnya. Sekarang giliran wanita itu yang nampak kesakitan, kemudian dia lari menembus dinding. Ternyata yang melempar air tadi adalah Ron. "Air apa itu? Makhluk apa barusan?" Hendra nampak panik dan kebingungan. Ron menenangkan Hendra, dan menjelaskan bahwa wanita tadi adalah Hantu ganas. Air yang di lemparkan tadi adalah air yang berasal dari ombak pada malam bulan purnama. "Itu botol terakhir yang kupunya, mulai dari sini akan jadi lebih sulit" Ron bergegas berdiri dan mengambil kopernya. " Siapa sebenarnya kau?" Hendra masih nampak bingung. Ron melihat Hendra dengan tatapan serius, " Aku adalah Pemburu Hantu" Hendra nampak tidak percaya, "Waktu kita tidak banyak, aku butuh bantuanmu." Ron menjelaskan dia perlu waktu untuk mempersiapkan peralatannya, dia juga mengatakan bahwa Hantu yang satu ini cukup berbahaya. Tiba-tiba ruangan menjadi gelap, ternyata aliran listrik tiba-tiba padam. Ron melemparkan senter ke Hendra, dan dia juga menyalakan lilin. " Aku harus menjemput Pak Agung" Hendra mulai mengkhawatirkan atasannya yang sedang sendirian di ruangan lain. Ron mengangguk, dia melemparkan beberapa biji merica dan selembar kertas. "Jika terjadi sesuatu baca mantra yang ada di kertas itu, lalu lempar biji merica itu." Hendra mengangguk dan bergegas menuju kamar Pak Agung.

Baru keluar kamar, ternyata Hantu wanita itu telah menunggu di ujung lorong. Wajahnya nampak semakin menyeramkan, nampak ada luka bakar juga di wajahnya. Sepertinya itu karena air yang disiramkan Ron ke wajahnya.  Hendra segera membaca mantra yang ada di kertas itu, mantranya hanya sebuah kalimat dalam bahasa yang sama sekali asing bagi Hendra. Perasaan Hendra menjadi lebih berani setelah membaca mantra itu, dia pun mengejar hantu wanita itu untuk di lemparnya dengan biji merica. Ternyata hantu wanita itu yang menjadi takut dan diapun menyingkir. Ketika Hendra hendak melanjutkan perjalanannya, Ron keluar dari kamar membawa sebuah cermin antik dan sebuah botol yang berisi cairan berwarna merah. " Ayo kita ke tempat atasanmu." Mereka berduapun bergegas ke kamar Pak Agung.

Hendra dan Ron segera tiba di depan ruangan Pak Agung. Pintu kamarnya terkunci, Hendrapun mengedor pintu sambil memanggil Pak Agung, namun tidak ada respond. Hendra pun akhirnya mendobrak masuk ke dalam. Sungguh terkejut Hendra, yang ditemukannya adalah tubuh Pak Agung yang sudah terbaring kaku di atas ranjang. Nampak di lehernya ada bekas tangan, sepertinya dia tewas tercekik. Hantu wanita itu muncul menembus dinding. Dia nampak begitu marah, dan ingin menyerang Hendra. Ron pun bergegas mengarahkan cermin antik itu ke arah hantu wanita itu. Hantu wanita itu menjerit, dan berusaha kabur melalui dinding, tapi kali ini dia tidak bisa menembus dinding. "Apa maumu sebenarnya? Kenapa kamu ingin membunuh mereka?" Ron bertanya kepada hantu itu.

Hantu wanita itu menangis, tangisannya begitu memilukan hati. Dia menceritakan bahwa dia telah di bunuh oleh Pak Agung, agar pacarnya dapat direbut oleh Pak Agung. Atasan Hendra itu membuat Pacar hantu wanita ini terlilit hutang dan memaksanya membayar dengan tubuhnya. Dan semua ini berawal dari Hendra, hantu wanita itu menunjuk Hendra dengan amarah yang begitu besar. Hendra sekarang ingat, beberapa waktu yang lalu ketika sedang menemani Pak Agung makan malam di sebuah restoran, Hendra menggoda atasannya itu dengan mengatakan Pria yang berada di meja sebelah itu begitu tampan. Pria di restoran itu adalah orang yang sama dengan yang dia temui tadi pagi. Hendra begitu menyesal, karena candaan dia waktu itu ternyata begitu serius, Hendra langsung menangis meminta maaf kepada wanita itu. Hantu wanita itu tidak terima, lalu mengatakan Hendra harus mati untuk menebus kesalahannya. " Kalau dia mati pun, kamu tidak bisa hidup lagi. Lepaskanlah pria ini, aku akan memastikan dia menebus kesalahannya. Sekarang kau pergilah dari sini, dan lupakan dendammu." Ron berusaha membujuk hantu wanita itu. Sebenarnya hantu wanita ini masih tidak bisa terima, tapi kemampuannya tidak bisa mengalahkan Ron saat ini, karena itu dia memilih untuk pergi.

Malam yang panjang itu mungkin yang dipikirkan Hendra. Setelah mereka memanggil polisi untuk membereskan mayat Pak Agung, ternyata juga ditemukan Mayat wanita di bagasi mobil yang mereka bawa. Pada umumnya jelas sulit menjelaskan kepada polisi apa yang telah terjadi, namun Ron ternyata memiliki kenalan yang berpangkat tinggi di kepolisian sehingga tidak perlu menjadi urusan yang panjang. Ron menjelaskan bahwa Hendra memiliki bakat dalam menghadapi hantu, karena itu sebagai penebusan kesalahannya, Ron meminta Hendra menjadi asistennya. Hendra menyetujuinya. Mulai malam ini, Hendra telah tiada. Dia telah lahir kembali sebagai Hendra yang baru, tanpa ikatan dengan masa lalunya. Dia menjadi Pria yang Hidup di Balik Bayangan. Dan pertualangan yang menantinya bersama Ron pun dimulai.

Bersambung..

Langkah Si Panda Bagian Sebelas

Sistar chic,



 Awal pagi ini diramaikan dengan sebuah kesibukan, karena ada pesanan mendadak yang harus di antar siang hari ini. Dari pagi Ibu Rose dan aku telah menyiapkan bunga-bunga untuk di kirim, bahkan kami tidak sempat sarapan dan membuka toko. Setelah selesai mempersiapkan bunga itu, aku membuka toko kemudian membereskan isi toko untuk dikirim siang nanti. Ibu Rose meminta untuk sarapan dulu sebelum berangkat, walau bisa dibilang itu sudah dapat dikatakan sebagai makan siang.

Setelah makan, aku segera mengangkut pesanan ke mobil. Kemudian akupun segera mengantarnya. Tempat yang dituju cukup jauh dari toko, untung saja hari ini jalanan tidak macet sehingga aku dapat melaju dengan cepat. Tidak butuh waktu terlalu lama sampai aku tiba di lokasi pemesanan.

Aku memarkir mobilku sesuai dengan arahan orang-orang di lokasi, ternyata bunga-bunga ini adalah untuk pembukaan sebuah perusahaan baru. Suasana begitu meriah, banyak tamu mulai hadir seiring dengan aku menurunkan bunga-bunga dari mobil. Nampak orang-orang dengan setelan yang mahal terus berdatangan. Bahkan pengisi acaranya pun adalah penyanyi-penyanyi terkenal. Saat aku mengangkat bunga terakhir sekaligus paling besar tiba-tiba salah satu Girlband tampil, terdiri dari empat wanita cantik. Konsentrasiku menjadi terbagi, tanpa sengaja aku mengenai seseorang yang sedang berdiri di depanku. Dia nampak sangat marah hanya karena kusenggol sedikit. "Maaf Pak, Saya tidak melihat bapak" Aku menurunkan kepala untuk menunjukan rasa bersalahku. Ternyata orang ini tidak puas hanya dengan itu, " Kamu tidak tau siapa saya?!" Dia memarahiku dengan sangat kuat, seolah-olah menunjukan kekuasaannya yang besar. Dia terus meneriaki, memberitau dia orang penting di perusahaan kemudian dia juga menguasai Taekwondo dan bisa saja melukaiku jika kami tidak sedang berada di acara ini. Dia membuat keributan hanya karena masalah yang begitu sepele menurutku. Semakin lama semakin banyak mata yang menatap kami, sampai akhirnya Girlband yang sedang beraksi menghentikan nyanyian mereka. Entah orang ini sadar atau tidak bahwa dia telah menyita perhatian seluruh ruangan. Dia masih saja mengoceh, larut dalam emosinya. Sampai seorang anak kecil mendekati kami berdua,ternyata itu Andre. Ketika dia melihat Andre, bapak ini langsung terdiam. Dia menatap ke sekitar ruangan dan dia baru sadar bahwa semua mata sedang menatap kami. Andre menyapaku, dan akupun tersenyum padanya. Semua orang masih menatap kami, namun aku dan Andre bersikap seolah tidak terjadi sesuatu. Perlahan-lahan ada seseorang lagi yang mendekat, Nenek Andre. Orang yang memarahiku nampak sangat ketakutan, Nenek bertanya apa yang terjadi. Aku dan Bapak itu saling melihat kemudian aku menjelaskan bahwa aku melakukan kesalahan kepada bapak itu. Nenek tau bahwa aku telah diperlakukan tidak adil, Namun suasana sedang tidak mendukung. "Anda, tolong temui saya nanti selesai acara ini." Ujar nenek Elly ke Bapak itu. Dia langsung mengangguk, dan menjauh dari kami. Suasana kembali tenang dan acara kembali berjalan.

Aku telah selesai meletakan semua bunga-bunga, Aku pun hendak pulang. Namun Nenek Elly menahanku, beliau ingin mengajakku bertemu seseorang. Kamipun berjalan ke suatu ruangan. Disana terlihat dua wanita, satu sedang duduk di Meja berbicara kepada wanita yang sedang berdiri. Yang sedang berdiri nampak tidak asing. Nenek Elly pun memperkenalkan aku kepada wanita yang sedang duduk. Dia adalah Direktur Utama perusahaan ini, sekaligus cucu Nenek Elly. Wanita itu menatapku, nampak acuh tak acuh. Namanya Jessica, dia adalah kakak dari Andre. Ternyata inilah kakak yang diceritakan Andre, memang terlihat tidak bersahabat. Wanita yang sedang berdiri melambaikan tangan dan sambil tersenyum ke arahku, Akupun tersenyum padanya. "Nek, Aku sedang sibuk. Jika tidak ada keperluan lain, aku ingin melanjutkan pekerjaanku untuk persiapan perusahaan ini." Jessica tampak tidak ingin berbicara denganku. Kurasa hal ini wajar, karena aku hanyalah pria dekil di hadapannya. Akupun izin pamit, lalu Andre mengajakku untuk pergi ke taman bermain hari minggu nanti. Akupun mengiyakannya. Setelah itu akupun pulang.

Dalam perjalanan pulang, cukup banyak yang kupikirkan. Tentang hidup yang kulalui selama ini.

Bersambung..

Langkah Si Panda Bagian Sepuluh

Aku akhirnya sampai di Toko. Ibu Rose sudah menunggu di depan. Aku meminta maaf karena keluar terlalu lama saat jam kerja seperti ini. Ibu Rose mengatakan bahwa tidak apa-apa namun dia bertanya apa yang terjadi. Akupun menjelaskan kejadian yang baru kualami, beliau tertawa mendengar kisahku.
Aku kemudian memberikan kepiting yang aku beli kepada Ibu Rose. Beliau nampak terkejut, aku mengatakan ini untuk telah menjagaku dengan baik. Beliau memintaku menjaga kesehatanku. Aku kemudian mengemas barang belanjaanku lalu kembali menjaga toko.
Tidak terasa waktu berlalu cepat hari ini, sudah malam saja. Akupun membereskan toko, ketika membereskan toko, Ado lewat. Dia mengatakan ingin singgah malam ini, karena rumahnya kosong. Eva dan Steve pergi ke ulang tahun temannya Steve. Setelah membereskan toko, Aku mengatakan bahwa temanku Ado akan datang malam ini. Ibu Rose tersenyum. Akupun mandi.
Tidak lama setelah aku mandi, masuk pesan singkat ke handphoneku. Dari Ado, dia telah menunggu di depan toko. Akupun turun membukakan pintu. Ketika kami berjalan masuk, tercium aroma harum yang sangat mengundang selera. Ternyata Ibu Rose memasak Fuyunghai Kepiting yang tanpa beliau sadari adalah salah satu makanan favoritku.
Kami akhirnya makan bersama, aku mengenalkan Ado kepada Ibu Rose. Menceritakan pertemuanku dengan Ado pertama kali. Kurang lebih 12 Tahun yang lalu. Ketika usia kami masih begitu belia, sekitar 10 tahun. Kami bertemu. Kami bersekolah di sekolah yang sama. Awalnya kami tidak dekat, karena Ado berasal dari latar belakang yang begitu berbeda dariku. Suatu hari ada seorang wanita dengan wujud begitu menyeramkan, bernama Leba. Awalnya Leba selalu menjadi bahan olok-olok karena rupanya yang tidak biasa, karena Ado orangnya lembut dia bersahabat dengan Leba,namun akhirnya Leba mengejar Ado dengan agresif. Ini jelas bukan hal normal untuk anak-anak berumur 10 tahun seperti kami. Leba selalu mencium Ado setiap ada kesempatan, dan membuat sebagian kebahagiaan Ado terkuras. Ya, Leba seperti Dementor dari serial Harry Potter. Suatu hari Ado sedang berbicara denganku tentang PR matematika, saat itu Leba mendekati kami. Leba melihatku dalam-dalam, dia merasakan aura kesedihanku, memang saat itu aku masih sulit menerima keadaanku. Aku seperti musuh alami bagi Leba yang memakan kebahagiaan Ado. Akhirnya dia menjauh tanpa berkata apa-apa. Ado menyadari satu hal saat itu. Sejak kejadian itu, Ado selalu membawaku kemana-mana, setiap Leba mendekat dia akan menggunakanku sebagai Perisai. "Ron Barrier" adalah istilah yang diberikan padaku. Bukan hanya Ado, beberapa orang yang sering di dekati Leba menggunakan jasaku, bahkan ketika Leba datang mereka akan menarik kerahku dan menghadapku langsung ke Leba sambil berteriak, "Ron Barrier!" dan Leba akan pergi sambil berteriak-teriak. Seperti Vampire yang melihat Salib. Kami semua menikmatinya, bahkan Leba juga. Perlahan-lahan tapi pasti hubungan persahabatanku dengan Ado terbangun, Aku menemani Ado melewati banyak hal begitu juga sebaliknya.
Ibu Rose tertawa mendengar ceritaku, sedangkan Ado wajahnya seperti baru mengingat Trauma lamanya. Ado sepertinya mengingat kembali aib-aib masa lalunya. Kami meneruskan berbincang-bincang sampai akhirnya selesai makan. Ibu Rose mengatakan bahwa sudah lama dia tidak makan martabak telur, tiba-tiba kepikiran. Akupun menawarkan diri untuk membelinya, Ibu Rose mengatakan tidak perlu. Beliau mengatakan bisa lain waktu saja, lalu Ado mengatakan bahwa dia juga sudah lama tidak makan martabak telur. Aku dan Ado pun memutuskan untuk keluar membeli martabak telur.

Kami berdua melewati jalanan yang ramai dengan motor, cukup lama kami berkeliling sampai bisa menemukan Tukang Martabak Telur. Ternyata sedang ramai sekali, akhirnya aku memesan 2 porsi Martabak telur kemudian menunggu di warung dekat gerobak martabak tersebut. Aku dan Ado memesan teh hangat sambil menunggu pesanan kami tiba. Di seberang jalan, nampak empat wanita dengan dandanan tebal dan pakaian minim sedang berdiri di bawah sorotan lampu jalanan. Usia mereka masih sangat muda, seumuran dengan kami mungkin. Apa yang sedang mereka lakukan tentu tidak perlu aku jelaskan lagi, mereka adalah Wanita Tuna Susila, orang-orang yang memberikan "Jasa" untuk mendapatkan uang.

Ado menatap miris kepada mereka, Kami sadar mereka melakukan ini juga bukan berdasarkan kemauan mereka. Ini terjadi karena pengaruh tekanan ekonomi. Aku dan Ado teringat beberapa hal yang terjadi di masa lalu kami. Kemudian kami berbincang-bincang sedikit tentang apa yang kami lihat. Ado mengatakan bahwa dia memang harus semangat bekerja, jangan sampai adiknya yang cantik itu harus melakukan pekerjaan seperti ini. Aku menepuk pundak Ado, mengatakan bahwa Eva dan Steve bukan hanya tanggung jawab dia, tapi tanggung jawabku juga. Mereka bertiga memang sudah seperti saudara kandungku. Ado tersenyum puas.

Kami kembali menatap ke empat wanita itu, tiba-tiba di dekat mereka ada taxi berhenti dan menurunkan seorang gadis muda. Gadis itu berparas cantik dan berpakaian wanita kantor dan memakai High Heels, jelas dia bukan wanita yang ingin berjualan "Jasa". Gadis itu nampak kebingungan, kemudian melihat ke arah ke empat wanita di sebelahnya. Sadar akan posisinya yang salah, dia berusaha untuk menyeberang. Namun sepertinya dia kesulitan menyeberang. Aku dengan cepat menyeberang ke arah gadis tersebut, Ado hanya terbengong melihatku. Aku sampai di seberang dan segera membantu gadis itu menyeberang. Sesampainya kami di sisi satunya, dia berterimakasih kepadaku. Dia menceritakan bahwa dompetnya ketinggalan di rumah dan uang yang dia bawa tidak cukup lagi untuk membayar taxi. Aku menatapnya kemudian aku bertanya kepadanya, bukankah dia bisa pulang sampai rumah dan meminta taxinya menunggu sementara dia mengambil uang di rumahnya. Gadis itu langsung menepuk keningnya, mengatakan tidak terpikir sebelumnya. Gadis lugu ini benar-benar menarik, aku membantunya memanggil taxi dan akhirnya dia menaiki taxi itu. Sayang aku lupa menanyakan namanya. Ado hanya tertawa melihat apa yang baru saja terjadi.

Akhirnya martabak pesanan kami selesai, kamipun segera pulang. Ketika sampai di toko bunga, ternyata Ibu Rose telah tidur. Mungkin beliau kelelahan, jadi kami berdua saja yang makan ronde kedua. Setelah makan Ado pun pulang. Aku kembali ke kamarku, aku melihat ada pesan singkat yang masuk ke handphoneku, dari salah seorang teman baikku yang lainnya, Hendra. Dia mengatakan bahwa dia akan segera dipindah tugaskan ke kota aku berada, Dia tidak sabar untuk bertemu denganku. Akupun mengiyakan, dan mengatakan bahwa segera hubungi aku setelah sampai disini. Aku berbaring menatap langit-langit kamarku, aku merasakan ada hal yang berbeda besok. Mataku perlahan-lahan mulai menutup karena lelah, dan akhirnya aku tertidur.

Bersambung...

Langkah Si Panda Bagian Sembilan


Wang Suk Hyun
Supermarket ini ternyata cukup besar, Aku berkeliling membeli cukup banyak barang. Ketika sampai di bagian daging segar, aku melihat daging kepiting yang sedang diskon. Walaupun sedang diskon harganya masih mahal. Aku membuka dompetku, ternyata hasil kerjaku sebagai supir cukup banyak. Jika dipakai membeli daging kepiting ini masih tersisa sedikit. Aku akhirnya mengambil daging kepiting ini. Aku pun menuju kasir untuk membayar semuanya, benar saja uangku tinggal sedikit setelah belanja. Ketika sedang menuju pintu keluar, aku mendengar ada keributan.
Ada seorang anak kecil, usianya sekitar 9-10 tahun. Dia membuat keributan, dia berteriak-teriak memanggil neneknya. Para pegawai Supermarket kesulitan menghadapinya. Akhirnya aku mendekati anak itu dan bertanya, " Anak Pintar, Siapa namamu?" Aku jongkok sambil tersenyum padanya. Dia menatapku lama, kemudian mengenalkan namanya Andre. Dia sedang mencari neneknya. Anak ini sangat pintar pada usia begini sudah bisa bersosial dengan orang yang lebih tua darinya. Dia mengatakan dia mencari neneknya yang hilang di jalanan, karena itu dia masuk kesini. Dia berpikir neneknya ada di supermarket ini. Aku menjelaskan padanya bahwa neneknya tidak disini. Aku membawanya ke depan Supermarket. 
Andre mulai terlihat tenang, di dekat supermarket ada yang menjual sosis goreng. Akupun membelikan untuknya. Dia makan dengan lahap, sepertinya dia belum makan daritadi. Aku baru menyadari, bahwa pakaian yang dipakai Andre adalah pakaian yang sangat bagus. Sepertinya dia berasal dari keluarga orang kaya. Karena itu pelayan-pelayan supermarket tadi tidak berani sembarangan mengusirnya. Aku memberikan Andre sebuah teh botol yang kubeli tadi. Dia meminumnya juga. Andre bercerita bahwa ini pertama kalinya dia makan Sosis goreng, ternyata sangat enak. Anak ini mulai kedengaran seperti anak tidak pernah makan enak, atau sebaliknya tidak pernah makan sesuatu yang murah? Entahlah. 
Aku bercerita beberapa hal, tentang dongeng kepada Andre. Dia nampak begitu terhibur, seperti dia tidak pernah mendengar dongeng-dongeng yang kuceritakan. " Abang begitu baik pada Andre, ikut aku pulang dan jadi Abangku ya?" Permintaan anak yang masih polos itu membuatku terdiam. Aku bertanya pada Andre, apakah dia tidak punya saudara. Andre mengatakan dia hanya punya seorang Kakak perempuan yang galak dan menyebalkan. 
Belum selesai Andre bercerita, nampak segerombolan pria dengan jas hitam mendekati kami. Salah satu dari mereka bergerak menangkapku dengan cepat aku membalikan keadaan dan membanting orang itu dengan teknik Yokomen Uchi Kokyu Nage dari Aikido. Ketika aku mengambil posisi untuk bertarung dengan yang lainnya, Andre menghentikan kami. Di belakang orang-orang muncul seorang nenek dengan pakaian formal. Andre berbicara dengan nenek itu, sepertinya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sepertinya dia adalah Neneknya Andre.
Nenek Andre mendekatiku, memperkenalkan dirinya sebagai Elly, Nenek Elly. Dia meminta maaf atas kesalah pahaman ini dan berterimakasih karena telah menjaga Andre. Dia mengeluarkan sejumlah uang, namun aku menolaknya dengan sopan. Aku mengatakan bahwa aku menikmati waktu bersama Andre. Nenek Elly terkejut bahwa Andre bisa dekat dengan orang asing, dia mengatakan aku pasti orang yang baik sehingga bisa diterima oleh Andre. Aku hanya tertawa, Kemudian aku izin pamit dengan Andre. Dia sepertinya tidak rela melepasku, dia merasa baru mendapatkan saudara baru. Dia bertanya kapan bisa berjumpa lagi, Aku memberikan alamat toko Bunga. Dia bisa mencariku kapan saja, asal dia rajin belajar dan tidak nakal. Andre tersenyum ceria. Nenek Elly menawarkan tumpangan, namun aku mengatakan bahwa tempat yang kutuju tidak jauh. Aku pun berjalan pulang.
Yang tidak kusadari adalah Nenek Elly melihatku dari jauh, begitu juga Andre. Dengan tatapan yang hangat, tatapan yang telah lama mereka tidak tunjukan kepada orang luar. Aku tidak sadar, bahwa pertemuan ini membuat hidupku semakin rumit nantinya.
Bersambung....

Langkah Si Panda Bagian Delapan



Waktu telah cukup larut, aku memutuskan untuk menyetir pulang. Namun Erine menolak untuk pulang, dia mengatakan dirinya lapar. Sebelum pulang dia ingin makan, maka kami singgah di cafe yang menjual cake. Ternyata Erine suka makanan-makanan yang manis.

Kami duduk di meja yang berada di tengah ruangan. Erine terlihat cukup ceria, dia memesan sepotong cake. Sedangkan aku memesan segelas teh susu. Kami melanjutkan bincang-bincang kami, saling mengenal lebih jauh. Perlahan-lahan Erine mulai membuka diri, dia mulai tertawa dan tersenyum lagi. Bahkan dia tertawa terbahak-bahak saat pelayan yang mengantarkan cakenya salah memberikan alat makan. Bukannya memberikan sendok dan garpu malah memberikan dua buah garpu. Kemudian Erine minta di foto saat makan dengan dua garpu itu.
Semua berjalan baik, Aku pun bisa bernafas dengan lega. Sebelum pulang Erine ingin ke kamar kecil dahulu. Aku pun menunggunya, aku melihat jam di handphone jadulku. Sudah hampir pukul 11 malam. Tidak lama kemudian Erine keluar dari kamar kecil, saat sedang berjalan menuju ke mejaku dia di goda oleh tiga pemuda yang duduk di meja dekat dengan kamar kecil. " Hei cewe, Temanin abang lah" Goda salah satu pemuda itu. Reaksi Erine ternyata mengejutkan, dia lalu memarahi ketiga pemuda ini dengan sebutan tidak tau diri dan kata-kata kasar lainnya. Aku baru sadar Erine memiliki karakter yang sangat keras. Ketiga pemuda ini tidak terima dan langsung berdiri memegang tangan Erine. Akupun bergegas ke sana, suasana dalam cafe menjadi cukup panik. Tidak kusangka kejadian seperti ini harus terjadi di tempat yang bahkan dindingnya di cat dengan warna pink. Aku melepaskan tangan pemuda itu dari Erine dan meminta maaf atas kata-kata Erine. Anak-anak muda ini justru mengatakan padaku untuk tidak ikut campur. Salah satu dari mereka melayangkan pukulan padaku, dengan cepat aku hindari. Akhirnya aku berkelahi dengan ketiga pemuda ini, tidak perlu waktu lama untuk menumbangkan mereka bertiga yang tidak memiliki kemampuan bela diri sepertiku. Namun perkelahian kami merusak beberapa properti cafe. Erine terkejut dan senang sekali menontonku. Dia akhirnya menganti semua kerusakan yang kutimbulkan, namun dia sepertinya puas. Segera kami keluar dari cafe itu.
Saat di mobil Erine bertanya, apakah yang aku gunakan tadi adalah Kung Fu seperti Jet Lee atau Jackie Chan. Karena dia melihat aku seperti aktor laga dalam film-film yang biasa dia tonton. Aku melihatnya dari Spion dan mengatakan bahwa sebaiknya dia tidak banyak menonton film yang mengandung kekerasan, dan aku jelaskan bahwa yang tadi aku gunakan adalah Muay Thai. Erine bertanya banyak tentang Muay Thai, dan aku hanya menjelaskan sejarah dan bagaimana aku tertarik mempelajarinya. Akhirnya kami sampai di rumah Erine. Ketika aku ingin pamit, Erine membayarku dengan jumlah uang yang banyak. Namun aku menolak, aku mengatakan melihat senyum indahnya malam ini adalah bayaran yang pantas. Erine tersenyum senang, pipinya pun memerah. Erine meminta Julius mengantarku pulang. Dalam perjalanan Julius mengatakan bahwa dia tidak pernah melihat Erine sebahagia itu. Aku dan Julius akhirnya bertukar nomor Handphone. Julius bercerita bahwa dia baru ditunjuk oleh kepala Pelayan sebagai supir pribadi Erine.
Aku melihat jam sudah menunjukan hampir pukul satu pagi ketika aku sampai di depan toko bunga. Ketika aku masuk ternyata Ibu Rose masih bangun, beliau mengkhawatirkan kesehatanku jika aku pulang malam terus. Akupun bercerita sedikit dengan beliau. Karena sudah begitu larut kamipun tidur.
Pagi barupun tiba, Aku masih mengantuk karena kurang tidur. Namun pekerjaan sudah menanti. Aku segera mandi dan membuka toko. Ternyata hari ini cukup sepi, Ibu Rose mengatakan memang hari ini sedang tidak ada pesanan. Ibu Rose mengatakan bahwa ini hari yang baik, sebaiknya aku pergi membeli keperluanku. Mungkin beliau tau bahwa perlengkapan mandiku sudah hampir habis, jadi akupun izin pamit. Akupun berjalan kaki ke arah Supermarket terdekat, sebelumnya aku singgah di loket pembelian pulsa. Yang menjaga loket itu wanita yang masih sangat muda, mungkin hanya sekitar 14-15 tahun. Seharusnya anak ini masih sekolah, namun ini memang hal biasa di negara ini. Banyak anak-anak yang putus sekolah karena masalah biaya atau keadaan ekonomi yang sulit. Walaupun Pemerintah telah membantu dengan sekolah gratis, tetap saja pemikiran orang tua anak-anak ini masih dangkal. Mereka lebih memilih anaknya untuk bekerja sebagai pemulung atau penjaga toko. Padahal dengan tingkat pendidikan yang lebih baik, anak-anaknya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik pula. Langkah kaki terus berjalan tak terasa Supermarketpun telah di depan mata.
Bersambung...

Langkah Si Panda Bagian Tujuh


Malam ini tidak sesepi malam sebelumnya, hujan gerimis menyapu jalanan malam. Banyak kendaran berlalu lalang malam ini. Sudah hampir 30 menit kami berkeliling, dia masih saja diam seribu bahasa. Aku menyetir pelan, lalu melihat seseorang yang kebasahan karena hujan di atas motor. Aku seperti melihat diriku sendiri, walau kondisiku sebenarnya lebih buruk atau mungkin lebih baik. Setidaknya saat ini aku mengendarai mobil mewah tanpa terkena hujan.
Aku melihatnya untuk kesekian kalinya melalui spion. "Maaf" Kata yang terucap darinya untuk memecahkan kebekuan diantara kami. " Saya tidak tau maaf untuk apa? Tapi jika non ada salah, pasti sudah saya maafkan" jawabku sambil melihat ke depan. "Panggil aku Erine, Namamu siapa?" sepertinya dia memutuskan untuk saling mengenal lebih dalam." Namaku Ron" Aku kembali melihatnya melalui spion sambil tersenyum. Sekarang kusadari, sejak pertama bertemu dia selalu murung.
Erine mulai bercerita tentang kejadian kemarin, dia menyesal menyulitkanku karena usaha bunuh dirinya. Ternyata dia cukup bisa berbicara dengan orang lain. "Maaf, Erine. Apakah aku boleh tau alasan tindakanmu kemarin?" Sulit untukku menyembunyikan rasa penasaran akibat tindakan nekatnya semalam. Dia terdiam, kemudian menghela nafas. "Tidak apa-apa jika tidak mau cerita, jangan dipaksakan" Aku merasa bodoh, menanyakan hal sensitif seperti itu dengan mudah." Tidak apa-apa" Suara parau yang kemarin sempat kudengar muncul kembali. Air mata mulai menetes dari tepi mata-mata indahnya. Kemudian dia menceritakan semuanya. 
Erine merasa hidupnya mulai membosankan, walau bergelimang harta ayahnya dia tidak bahagia. Dia menginginkan hal yang lebih, sesuatu yang tidak bisa di beli dengan uang yaitu Cinta. Hari-harinya mulai terasa datar, sampai suatu hari dia bertemu seorang pria bernama David. Pertemuan pertama di Restoran Jepang itu merubah semuanya. David mendekati Erine yang sedang duduk sendiri dan memberanikan diri berkenalan. David datang bersama beberapa temannya, awal pertemuan mereka memang unik. Pertemuan kedua dan seterusnya pun terjadi. Rasa suka terhadap Davidpun mulai muncul. Erine tau bukan wajah tampannya, atau tubuh atletis si David yang membuatnya ada rasa, namun David yang selalu bisa membuatnya tertawa. Suatu hari David datang ke rumah Erine dan itu merubah segalanya. David akhirnya tau bagaimana latar belakang Erine yang sebenarnya. Bukannya kecil hati atau ingin mundur, dia justru menyatakan perasaannya kepada Erine. Gadis muda yang sedang merasakan suka ini tentu senang. Hubungan mereka akhirnya menjadi sebuah Backstreet ( Pacaran diam-diam). Awalnya Erine senang dan bahagia dengan hubungan barunya, namun seiring berjalannya waktu dia mulai merasa ada yang salah. Setiap kali keluar makan, selalu Erine yang membayar semua. Sebelumnya mereka masih membayar masing-masing. Begitu juga dengan Bioskop, Jalan-jalan semua Erine yang menanggung biayanya. Ketika hubungan mereka lebih jauh akhirnya si David mulai meminta dibelikan bermacam-macam, mulai dari barang-barang ringan seperti pakaian, kemudian jadi jam tangan, bahkan terakhir sebuah motor sport. Suatu hari Erine berpas-pasan dengan teman-teman David di mall, Diam-diam mereka sedang berbincang betapa beruntungnya David, memiliki wanita kaya sebagai pundi emasnya. Ternyata Erine hanya di permainkan oleh David, dia kemudian mengajak David bertemu kemudian bertengkar hebat. Mereka putus di hari itu. Tidak begitu lama setelah mereka putus, si David mengajak Erine untuk kembali kepadanya. Tujuannya adalah agar Erine bisa membayarkan kredit motor sportnya, tentu Erine murka dan mengatakan kepadanya untuk pergi mati saja sana. Tepat pulang dari rumah Erine, si David kecelakaan dan meninggal. Erine merasa sangat bersalah.
Aku terdiam mendengar cerita panjang itu, teringat kata-kataku tadi pagi kepada anak itu sepertinya apa yang kulakukan menjadi sebuah kesalahan. Aku mencoba menghibur Erine dengan menceritakan ulang kejadian tadi pagi dan mengatakan aku mulai menyesal dengan yang kukatakan kepada David. Erine hanya terdiam, kemudian aku bercanda dengan mengatakan "Wah, jangan-jangan tadi banyak yang nangis karena ada hutang yang belum dibayar ya, hehe." Erine mengusap air matanya," Tolong, Jangan hina dia lagi. Bagaimanapun dia pernah menjadi orang yang berarti untukku." Kami berdua menjadi terdiam lagi, aku merasa salah. Erine kembali melihat jendela mobil. Aku kembali membuka percakapan "Tidak adil jika hanya Erine yang bercerita, biar aku berbagi sedikit ceritaku juga." Erine melihatku, dia diam namun dia terlihat ingin mendengar sesuatu yang menarik. Aku pun bercerita sedikit tentang masa laluku.
Aku hidup sebatang kara, sebenarnya aku berasal dari keluarga yang berada namun suatu hari orang tuaku meninggal dalam kecelakaan bersama adikku. Meninggalkanku seorang diri. Saat itu usiaku baru menginjak 7 tahun, karena karakterku yang keras serta orang tuaku berperilaku buruk terhadap keluargaku, tidak ada yang bersedia menampungku. Benar-benar tidak ada kerabat atau teman dari orang tuaku yang peduli padaku. Itu sebuah awal untukku, bahwa itu adalah pentingnya bersosialisasi. Pentingnya kita hidup membangun relasi yang baik dengan orang lain, karena kenyataannya kita tidak pernah mampu hidup sendiri. Aku terpaksa tidur di taman kota, tangga penyeberangan dan toilet umum selama beberapa waktu. Aku hidup dari makanan dan minuman sisa orang lain, selama hampir 3 bulan aku hidup seperti itu. Beberapa waktu itu yang menempaku menjadi sangat cepat dewasa sebelum waktunya. Aku mengerti dunia ini kejam, dunia ini tidak adil, bahkan orang-orang dengan mudahnya membiarkan anak seusiaku saat itu terlantar begitu saja. Karena mereka sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi hidup seperti ini tidaklah buruk, selama kita tidak menyerah. Aku banyak mendapatkan pelajaran serta sahabat-sahabat luar biasa yang akhirnya membuatku terus bertahan hidup. Banyak hal yang ingin kuceritakan namun waktu sudah cukup larut.
Aku melihat Erine, wajahnya nampak tercengang dengan ceritaku. "Aku ingin mendengar lebih banyak" Erine menatapku, berharap aku bercerita lebih banyak. Aku mengatakan padanya bahwa terlalu lama untuk bercerita semua, mungkin lain waktu aku cerita lebih banyak. Dia bilang besok dia libur, dan dia bisa pulang larut. Dia bercerita dia penasaran dengan sahabat-sahabatku, karena dia belum pernah punya sahabat. Aku terkejut mendengarnya, ketika sampai di lampu merah. Aku membalikan kepalaku dan menatap Erine, "Kamu memiliki banyak orang di rumahmu, dan kamu juga memiliki harta yang melimpah Erine" Aku melihatnya dengan wajah serius. Erine diam sejenak lalu mengelengkan kepala, "Tidak, itu berbeda." lalu akupun tersenyum puas. Dia mengerti maksud dari ceritaku. Akupun memberikan nomor Handphoneku kepadanya jika ada yang ingin dia ceritakan dia bisa sms aku. Erine tersenyum dan dia terlihat sangat cantik.
Bersambung...

Langkah Si Panda Bagian Enam


Credit: Writing Equals Love 
Dalam perjalanan menuju kembali ke Toko, Aku berpikir manusia selalu menghadapi kehilangan-kehilangan. Seperti diriku yang kehilangan banyak hal di usia muda, namun akhirnya aku mendapatkan banyak hal lain sebagai gantinya. Banyak di antara kita yang begitu sulit menerima kehilangan. Ada pepatah mengatakan kita menyadari betapa berharganya sesuatu ketika sudah kehilangan. Menurutku kita sebenarnya tau hal itu sangat berharga hanya saja kita tidak berpikir akan kehilangan. Sehingga ketika harus kehilangan kita menjadi sedih dan kecewa.
Terjebak kemacetan membuatku tiba di Toko sudah menjelang sore, waktunya tutup. Setelah memarkirkan mobil, aku segera membantu membereskan toko. Ketika sedang beres-beres, Ado lewat. Dia menawarkan bantuan untuk membereskan toko. Ibu Rose nampak sedang tidak enak badan, aku menyarankannya untuk istirahat. Beliau akhirnya masuk ke dalam dan akhirnya aku bersama Ado membereskan toko. Setelah selesai Ado mengajakku untuk ke rumahnya, karena nanti malam dia ingin keluar juga maka kami menggunakan satu motor saja. Aku berangkat setelah memberi tau kepada Ibu Rose, kami melaju di jalanan.
Ado memang ahli dalam bermotor, macet bukan hambatan baginya. Dengan gesit dan luwes dia melewati mobil-mobil serta motor-motor yang terjebak kemacetan. Tidak makan waktu lama sampai kami tiba di Rumah Ado, nampak Eva dan Steve sudah ada di rumah.
Kami kemudian berbincang-bincang, Eva menyuguhi kami dengan teh dan kue. Eva bertanya apa kejadian yang kualami beberapa waktu lalu benar adanya, karena dia cukup ragu mendengar cerita dari Ado.Aku membenarkan apa yang di ceritakan Ado, kemudian Eva bercerita bahwa Anak-anak dari SMA Tenmi memang orang-orang elite namun mereka suka membuat masalah. Kekayaan mereka membuat mereka gelap mata. Mendengar cerita Eva, aku mengerti satu hal, mereka hanyalah anak-anak kurang perhatian yang tidak tau bagaimana membahagiakan diri mereka dengan benar. Sebuah bukti nyata bahwa uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, walaupun memang lebih baik menangis dalam mobil mewah dibandingkan di bawah payung.
Ketika asik berbincang, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ada panggilan untuk menjadi supir lagi malam ini. Ado akhirnya mengantarku ke lokasi. Langit mulai mendung lagi, apakah malam ini akan kembali hujan seperti kemarin? Pikirku dalam hati. Sampai di lokasi, akupun langsung menuju gerbang ketiga. Di sana aku melihat sosok yang ku kenal sedang berdiri di luar mobil mewah yang kusetir kemarin. Erine! Ya, gadis itu lagi. Aku mulai memutar otak, apa dia memang masih mau mencoba bunuh diri.
Aku berjalan mendekat ke gadis yang membuatku kerepotan semalam, dia memandangku dengan tatapan tajam. Aku baru menyadari, ternyata gadis ini memiliki mata yang begitu indah. " Mereka bilang padaku, jika ingin memanggilmu harus di jam segini." Erine memecah keheningan. Aku hanya mengangguk saja, berarti dia memang mencariku dan bukan sebuah kebetulan. " Masuk ke Mobil" Dia memerintah begitu saja sambil memasuki mobil bagian belakang. Akhirnya aku masuk juga ke mobil. " Mau kemana non?" Aku bertanya sambil melihatnya melalui spion tengah. " Kemana saja, yang penting jalan dulu." Jawabnya ketus lalu memalingkan wajahnya ke jendela. Oh tidak, Ini akan terulang lagi pikirku. Hujan kembali turun, membasahi mobil mewah ini. Sama seperti sebelumnya, hanya kali ini lebih dingin. Aku kembali menyusuri jalan dengan mobil mewah bersama Gadis galak ini. Entah apa yang akan terjadi malam ini.
Bersambung..

Langkah Si Panda Bagian Lima



 Pagi baru telah tiba, Aku membuka mata dengan sedikit rasa malas. Kemarin benar-benar hari yang panjang dan melelahkan, namun aku tidak boleh mengecewakan Ibu Rose yang baik. Segera bergegas aku mandi, begitu aku turun ternyata Ibu Rose telah menyiapkan sarapan yang lezat. Aku makan dengan lahap sambil berbincang-bincang. Ibu Rose menanyakan kemana saja aku semalam, Kemudian aku ceritakan semua yang terjadi. Kami ingin berbincang lebih lama namun pekerjaan telah menunggu.
Toko buka jam 8 pagi, tepat beberapa saat setelah aku membereskan semua barang di toko. Hari berlalu dengan biasa, para pembeli datang langsung mengambil pesanannya. Namun Ibu Rose mengatakan akan ada kiriman untuk setelah istirahat Siang nanti. Ketika Istirahat siang tiba, aku pergi ke bengkel untuk menemui Ado. Kami pergi makan siang bersama di sebuah warung di dekat bengkel. Aku ceritakan semua kejadian semalam padanya, dan Ado nampak terkejut. Pekerjaan pertama yang mengejutkan baginya. Waktu memang cepat berlalu ketika kita bersantai, Tak terasa waktu istirahat siang hampir habis. Aku dan Ado segera kembali ke tempat kerja. Nampak Ibu Rose telah menyiapkan bunga-bunga yang harus di kirim, Ternyata Bunga ucapan turut berduka. Beliau mengatakan padaku, sebenarnya dia tidak menerima permintaan bunga duka, namun ini pesanan khusus. Aku menaikan semuanya ke mobil dengan hati-hati, kemudian mengikatnya agar tidak jatuh ketika diantar. Setelah semua bunga telah berapa di mobil, aku segera mengantarnya.
Aku menuju ke rumah duka tersebut. Terjebak dalam kemacetan memang menyebalkan, namun untuk membuat itu lebih menyebalkan atau tidak adalah pilihan kita. Sambil menunggu kemacetan, aku mendengarkan radio. Mencoba melahap informasi baru apapun yang dapat kudengar, namun kebanyakan hanya lagu-lagu cinta dan gosip-gosip tidak bermamfaat. Kadang aku berpikir, kenapa manusia mempersulit dirinya sendiri. Menyebabkan kemacetan seperti ini, yang membuat waktu habis terlalu banyak di jalanan.
Aku akhirnya tiba di rumah duka, nampak suasana sangat ramai. Begitu banyak orang yang menghadiri pemakaman ini. Aku menurunkan bunga-bunga itu di tempat yang diarahkan oleh petugas rumah duka. Nampak begitu banyak anak remaja yang ada di sini. Ternyata yang meninggal adalah Anak remaja pria yang masih di bangku SMA. Tidak heran begitu banyak anak remaja yang hadir melayat. Mungkin mereka adalah teman sekolah anak itu. Sungguh sedih melihatnya pergi di usia begitu muda, namun begitulah hidup. Kita seperti daun-daun yang menempel di dahan sebuah pohon, ketika ada badai yang datang menerpa pasti akan ada daun-daun yang rontok. Ada daun yang sudah coklat membusuk, ada yang masih kuning, dan bahkan yang masih hijau sekalipun rontok. Kita tidak pernah tau, berapa usia kita dan bagaimana kita meninggal.
Di depan, dekat dengan jenazah tampak seorang wanita yang menangis begitu pilu, di sampingnya ada seorang pria yang seusia denganku juga duduk terdiam. Wajahnya nampak begitu terpukul. Aku bertanya kepada petugas rumah duka tentang kronologinya. "Anak ini sedang jalan pulang, namun akhirnya tabrakan dengan truk. Sungguh malang nasibnya, dia meninggal di tempat. Yang di depan itu adalah Ibunya, sedangkan sebelahnya itu Abang dari almarhum. Ibunya baru menjanda beberapa bulan ini, sungguh kehilangan yang besar dalam waktu yang dekat." Setelah mendengar kisah itu, aku berpikir sejenak. Kemudian aku langsung mendatangi ibu itu, melewati banyak orang yang sedang duduk sambil berduka. Aku menepuk pundak sang Ibu," Bu, anda tidak perlu menangis lagi. Anak anda telah pergi ke tempat yang jauh lebih baik, anda pasti yakin bahwa anak anda akan mendapatkan tempat yang baik di alam sana. Jika anda menangis tentu dia akan sedih, bahwa ibu merasa dia tidak pantas mendapatkan tempat yang baik." Aku mengatakan itu sambil tersenyum begitu lebar, Sang Ibu terdiam. Lalu aku menghadap foto Almarhum, dan mengatakan dengan lantang, "Hei, Aku tidak mengenalmu, tapi yang aku tau kamu anak yang sangat beruntung. Begitu banyak orang yang meninggal yang pernah aku lihat, tapi kamu yang di usia muda pergi sudah begitu banyak orang yang kehilangan dirimu. Kamu pasti anak yang luar biasa, kamu pantas dapat yang terbaik di sana."
Semua orang disana terdiam karena perbuatanku, Sang Ibu menatapku dalam-dalam kemudian mengucapkan Terima kasih telah menyadarkannya. Aku langsung menuju ke pintu keluar. Ketika mendekati mobil, aku melihat seseorang yang mirip Erine keluar tidak lama setelah aku. Dia berlari kencang, seperti daun yang baru meninggalkan pohonnya.
Bersambung...

Langkah Si Panda Bagian Empat

 Hujan turun semakin lebat, aku menyetir mobil dengan santai. Kami berkeliling kota. Malam ini kota nampak sepi, karena hujan yang begitu deras ini. Tampak gadis di belakangku sedang menatap keluar melalui jendela mobil. Wajahnya nampak begitu sedih.
Tidak terasa sudah hampir satu jam berlalu, karena tidak macet kami telah berkeliling ke banyak tempat. Jam menunjukan sudah hampir jam 8 malam. Lalu aku bertanya pada Gadis di belakangku, " Nona, sudah satu jam kita berkeliling. Apa anda masih ingin terus berkeliling?" Gadis itu terkejut, seolah tersadar dari lamunannya. Dia menatapku cukup lama dalam diam. " Apa di dekat sini ada Jembatan?" Suara parau seperti menahan tangis keluar dari mulutnya. Aku mengangguk, kemudian dia memintaku untuk ke Jembatan itu.
Jembatan besar mulai terlihat, Ini bukan jembatan yang panjang ataupun Indah. Aku pun bingung apa yang di inginkan si Gadis ini. Ketika sedang berada di tengah Jembatan tiba-tiba dia memintaku untuk berhenti, Aku pun menepi. Dia menatap lama ke arah Sungai melalui jendela mobil, Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Benar saja tiba-tiba gadis ini membuka pintu mobil kemudian berlari menuju tepi Jembatan. Aku pun spontan mengejarnya.
Gadis ini meloncat ke bawah, kemudian aku segera menangkap tangannya. "Lepaskan!" si Gadis meronta-ronta kemudian ketika melihat ke bawah, dia pun pingsan. Aku menariknya ke atas, kemudian menggendongnya ke mobil. Aku langsung tancap gas agar tidak menarik perhatian banyak orang.
Hujan mulai reda, aku berhenti di tepi taman. Aku melihat gadis itu terlelap tak berdaya, Apa yang harus kulakukan. Aku melihat tas tangan miliknya, kemudian aku ambil. Mungkin aku bisa menemukan alamat rumahnya. Ternyata ada sebuah buku kecil, bertuliskan Buku Siswa. Aku buka dan lihat ada foto Gadis ini, Namanya adalah Erine Sania Tan. Dia bersekolah di Tenmi, dan ada alamat rumahnya di buku itu. Aku pun meluncur ke alamat tersebut.
Butuh waktu hampir setengah jam untuk menuju lokasi itu, ini adalah sebuah kawasan Elite. Banyak Rumah-rumah yang begitu mewah bergaya Eropa di sini. Aku sampai di Rumah paling besar di kawasan itu, ternyata ini alamat yang di maksud. Aku di persilahkan masuk oleh Beberapa Security karena membawa Mobil Benz ini, kemudian sesampainya di depan pintu, ternyata begitu banyak pelayan di rumah ini. Aku menjelaskan apa yang terjadi kepada Kepala Pelayan, seorang yang nampak begitu berwibawa. Kepala Pelayan ini nampak sedih, kemudian berterima kasih kepadaku. Dia meminta salah satu pelayan yang masih muda untuk mengantarku pulang. Aku pun pamit.
Pelayan yang mengantarku pulang ternyata memakai mobil pribadinya, yaitu salah satu mobil keluaran Toyota. Ternyata gaji seorang pelayan bisa begitu tinggi, Kamipun berkenalan. Namanya adalah Julius, Usianya pun baru menginjak 30 tahun. Badannya tegap dan berkulit gelap namun memiliki wajah yang ramah. Dia bercerita cukup banyak hal padaku, selama perjalanan ini. Bahwa dia bekerja selama 2 tahun di rumah itu, Kemudian bahwa Erine adalah anak dari salah satu pengusaha paling kaya di Negeri ini. Erine adalah Anak semata wayang. Keluarga Erine juga pengusaha-pengusaha papan atas negeri ini, namun yang melewati kekayaan Ayah Erine hanyalah Neneknya Erine. 
Sambil bercerita, waktu terasa cepat berlalu. Akhirnya aku sampai di toko Bunga, kemudian aku pun pamit dengan Julius dan Akhirnya Beristirahat hari itu. Benar-benar hari yang panjang.
Bersambung...

Langkah si Panda Bagian Tiga

http://www.privatefleet.com.au/images/upload/Image/new-cars/benz_e200.jpg

Pagi barupun tiba,  Aku melihat jam menunjukan pukul 5.20 lalu Aku bergegas bangun untuk mandi. Tidurku nyenyak, rasanya semalam aku mimpi Indah namun Aku tidak bisa mengingat mimpi apa itu. Seharusnya hari ini akan menjadi hari baru untuk kehidupan baru ku. Saat ini aku telah memiliki dua pekerjaan, Aku harus tetap semangat dan bekerja keras. Selesai Mandi dan berganti baju, Akupun Sarapan. Ado ternyata bangun awal tanpa harus dibangunkan dulu, dia bercerita dia bermimpi buruk.
Dia bermimpi bahwa Dia sedang berjalan pulang naik motor, melalui jalan yang biasa dia lewati. Jalan yang semalam kami lewati bersama, kemudian dia melihat seorang wanita di tikungan jalan, berbaju merah. Ketika dia mendekat, dia berusaha berbicara dengan wanita itu, namun wanita berbaju merah tersebut diam saja. Tiba-tiba ada mobil melaju ke arah Ado, dan dia tidak bisa bergerak, akhirnya dia di tabrak mobil itu, ketika sedang terpental dia melihat wajah wanita itu, matanya putih dan tersenyum sangat dingin. 
Well, itu cerita pagi saat sarapan yang sungguh mengugah selera makanku. Eva nampak cemas, memintaku untuk menemai Ado pulang hari ini, Ado mengatakan hal itu tidak perlu, toh hanya mimpi. Lalu aku menjelaskan, aku mendapat motor selama bekerja di toko Bunga. Untuk berhati-hati biarlah aku mengantarnya. Sekalian aku ingin keliling di malam hari juga, Ini memang hanya alasanku saja agar Ado mau di antar.
Ado adalah tipe orang yang paling tidak suka hal-hal bersifat mistik. Setelah sarapan kami berangkat. Aku berhenti di depan toko Bunga yang baru buka, sedangkan Ado menuju ke Bengkel tempat dia bekerja. Aku langsung membantu membereskan toko, Ibu Rose nampak senang. Setelah selesai, dia mengatakan untuk ke lantai dua, dimana kamarku berada. Dia mengantarku, dan kamar itu ternyata Wanita banget. Benar-benar seperti kamar wanita feminim dengan dinding berwarna putih motif bunga, serta perabotan seperti ranjang, lemari, serta meja yang Wanita banget. Ibu Rose menjelaskan bahwa kamar ini dulu di tinggali putrinya, sekarang putrinya sudah menikah. Barang-barang putrinya sudah dia keluarkan, silahkan aku mengisi barang-barangku di kamar ini. Akupun membereskan barangku yang tidak banyak itu.

Saat menjaga di toko, aku dijelaskan bahwa toko ini kebanyakan mengantar bunga daripada pembeli yang datang, dan kadang juga banyak yang ambil pesanan. Karena Toko ini memiliki banyak penghasilan dari Online. Putrinya yang menganjarkan Ibu Rose untuk berbisnis bunga secara online, karena itu Toko Bunganya sekarang begitu maju. Pada hari itu hanya orang yang datang mengambil bunga, belum ada tugas untuk mengirim. Lalu Aku bercerita pada Ibu Rose tentang mimpi Ado, Ibu Rose mengatakan agar menemani Ado pulang. Aku pun mengiyakan. Lalu tiba-tiba datang sebuah mobil besar untuk mengambil bunga dalam jumlah banyak. Yang mengatur pembayaranpun sangat rapi penampilannya. Menggunakan Jas yang bagus.

Ibu Rose menjelaskan bahwa itu adalah langganan tetapnya, mereka orang-orang dari Sekolah Paling Elite di negeri Ini. Nama Sekolah itu adalah Tenmi HighSchool / SMA Tenmi. Sekolah ini terdiri dari 36 Kelas, dan juga memiliki fasilitas yang sangat hebat, Seperti Mall dan Rumah Sakit di dalam Sekolah. Yang bersekolah disanapun orang-orang kaya seantero negeri dan juga anak-anak dari kedubes berbagai negara. Sungguh sekolah yang luar biasa.

Hari pertama bekerja berjalan dengan lancar, setelah menutup toko. Akupun mandi dan bersiap-siap keluar untuk ke bengkel dengan membawa motor bebek Ibu Rose. Aku menjelaskan juga, bahwa mungkin aku akan ada panggilan untuk menjadi supir setiap malam. Ibu Rose tidak mempermasalahkan itu. Aku pun berangkat. Begitu sampai di bengkel, ternyata Ado juga telah baru selesai membereskan bengkel, kemudian kami berjalan ke rumahnya, sesuai permintaan Eva, Khusus hari ini kami melewati jalur memutar yang lebih jauh. Langit mendung, dan bunyi petir menyambar. Ketika sudah dekat rumah Ado, Hujan turun dengan lebatnya. Akhirnya aku masuk ke rumah Ado untuk mengeringkan badan, dan minum secangkir teh hangat. Eva dan Steve belum pulang ternyata.

Ketika sedang ngobrol ringan bersama Ado, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata ada panggilan untuk menjadi Supir. Hujan masih lebat, namun aku memutuskan untuk pergi, Ini pekerjaan pertama jadi tidak ada alasan untuk menolak. Ado meminjamkanku Jas Hujan, kemudian aku pun berangkat ke tempat kerja.

Hujan semakin lebat, membuatku sulit melihat. Namun akhirnya aku sampai ke Bob's Call Driver. Di tempat ini orang bisa meminta untuk Supir, dengan alasan perjalanan jauh atau hanya sedang tidak ingin menghadapi kemacetan kota. Lokasi tempat ini pun berbeda-beda, dan aku menetap di Pos yang satu ini.

Aku memarkir motor, kemudian menuju loket untuk meminta kejelasan kerjaku. Karena ini hari pertama, aku baru diberikan tanda pengenal di Loket itu. Kemudian diminta untuk menuju gerbang 4. Di sana aku melihat sebuah Mobil yang sangat mahal, dan Bagus Mercedes Benz E-Class 200. Aku mendekat, kemudian seorang wanita di dalam memberi kode untuk segera masuk. Aku pun masuk dan mulai menghidupkan mesin, Ini pertama kalinya menyetir mobil sebagus ini. Lalu di Belakang ternyata Wanita tadi Masih begitu muda, mungkin hanya 16 tahun. Aku pun memperkenalkan diri, " Selamat Malam, Hari ini saya akan menjadi Supir anda, nama Saya Ron. Bisa berikan tujuan kita? " dengan senyuman lebar di pipiku. Dia hanya menatap sinis, " Jalan saja, kemana saja. Dan Jangan berbicara denganku jika tidak kuminta." Aku sedikit terkejut, namun akhirnya aku menyetir juga.

Masuk ke dalam bilasan Hujan Malam...


Bersambung..

Langkah si Panda Bagian Dua

http://multiply.com/mu/sonne99/image/19/photos/2/500x500/48/SG1L0911.JPG?et=DpPyYG92SuJf1ISScffxFg&nmid=104589459

Motor melaju dengan cepat, Ado memang sudah terbiasa menaiki motor dengan kencang. Dalam perjalanan, aku melihat gedung-gedung tinggi, serta lautan kendaraan yang berlalu lalang. Semakin hari, dunia ini semakin sulit untuk di tinggali. Akhirnya Aku dan Ado pun sampai di Bengkel tempat Ado bekerja.
Ado mulai menyiapkan peralatan kerjanya, Aku membantunya. Bos Ado sudah mengenalku, karena sebelumnya aku sudah pernah bertemu dengannya. Dia menanyakan keadaanku dan kenapa aku begitu lama tidak terlihat. Akhirnya aku jelaskan situasiku. Bos Ado bersimpati denganku, kemudian memberikan informasi bahwa di ujung jalan ini sepertinya ada toko bunga yang mencari karyawan. Jika aku tidak keberatan bekerja di Toko bunga, sebaiknya aku ambil pekerjaan itu kata Bos Ado. Aku langsung izin untuk kesana, Ado berniat mengantar namun aku bilang akan jalan kaki saja. Karena dekat juga tempatnya.
Aku pun berjalan menyusuri Jalan kecil ini. Terlihat mobil Pick Up putih dengan banyak karangan bunga pada muatannya. Aku berjalan mendekat, kemudian terlihat Gedung indah, penuh bunga. Rumah tiga tingkat dengan cat dasar Kuning kecoklatan pada Bata-bata yang tersusun rapi. Rumah klasik yang begitu Indah. Di Kaca pintu terlihat tulisan Open, serta dibawahnya tertulis : Dibutuhkan Karyawan. Aku pun masuk ke dalam Toko. Terlihat seorang Ibu yang sudah mulai memutih rambutnya, namun tetap nampak Cantik. Sepertinya beliau punya Inner Beauty yang hebat. Beliau tersenyum lembut, kemudian bertanya apa keperluanku, Akupun menjelaskan maksud dan tujuanku. "Namaku Ron, Kuharap anda bisa menerimaku. Aku benar-benar butuh pekerjaan ini." Akupun memperkenalkan diri, beliau membalas dengan senyuman. Dan beliau memperkenalkan diri, Namanya adalah Rose, Ibu Rose. Lalu kamipun berbincang-bincang, akupun menjelaskan situasiku. Mengapa aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. Beliau sangat apresiasi mendengar kisahku. Beliau bertanya apakah aku memiliki kendaraan pribadi, Aku jawab Tidak. Lalu Ibu Rose mengatakan aku bisa memakai sebuah motor bebek yang tidak dia pakai. Kemudian dia menawarkan untuk tinggal bersamanya. Dia memiliki satu kamar kosong, namun sebagai gantinya Aku bersedia di upah rendah. Aku rasa itu sangat adil. Beliau memberikanku kunci cadangan rumah serta kamar. Aku terkejut, Aku bertanya kenapa Ibu Rose bisa begitu baik kepada Orang yang baru di temuinya? Ibu Rose tertawa, lalu berkata dia tidak melakukannya pada semua orang, dia hanya merasa Aku bisa dipercaya.

Aku pun berbincang-bincang lagi, kemudian aku izin pamit pulang. Besok aku akan kembali, membawa barang-barangku. Ibu Rose mengantarku sampai depan toko, kemudian aku berjalan lagi ke bengkel. Sesampainya disana, ternyata Bos Ado membantu mencari kerja, Dia mengenalkanku pada salah satu pelanggannya, dan menawarkan aku menjadi Supir Panggilan. Aku menjelaskan aku baru dapat pekerjaan, itu menyita waktuku dari pagi sampai sore, Lalu pelanggan ini mengatakan dia memang membutuhkan yang mau Shift Malam, Akhirnya aku menerima dan memberikan nomor teleponku.
Aku menghabiskan waktu dengan membantu pekerjaan Ado hingga bengkel tutup. Kamipun pulang, saat makan malam, Aku cerita pada Ado, Eva dan Steve. Besok pagi aku akan pindah, dan Berterima Kasih pada mereka. Aku juga minta maaf karena sudah merepotkan. Eva merasa cukup sedih, dia ingin aku tinggal lebih lama. Aku berjanji padanya jika ada waktu pasti main ke rumah Ado. Setelah makan, akupun istirahat. Mempersiapkan hari baru besok, Aku telah mengemas barang-barangku yang sedikit itu. Sebelum tidur, aku membalas beberapa pesan singkat dari teman-temanku. Kemudian akupun terlelap. Menunggu besok hari yang baru dan lebih baik.


Bersambung...

Langkah si Panda Bagian Satu

http://kumpulanfiksi.files.wordpress.com/2011/07/yoga-twilight-park-bench-silhouette.jpg


 Namaku Ron, seorang pria yang biasa saja, belum lama ini usiaku menginjak 22 tahun. Saat ini aku hanya duduk di bangku taman, memandangi sebuah pohon. Ini seperti adegan sebuah film atau novel dengan ending yang buruk. Ya, tapi apa yang kualami beberapa waktu ini memang buruk.
Aku memandang langit, kemudian memejamkan mata. Mengingat apa saja yang baru terjadi padaku. Kembali ke beberapa waktu yang lalu, Aku bekerja paruh waktu di sebuah Toko 24jam dengan Shift malam, semuanya lancar selama beberapa bulan walau aku tidak menyukai Manager toko itu. Semua berubah ketika seorang karyawati baru masuk. Dia masih muda, serta cantik. Dia membuat Manager memberi pandangan yang buruk. Suatu malam, dia mendapatkan shift yang sama denganku, ketika aku sedang mengatur beberapa kaleng minuman di rak, aku mendengar jeritan dari belakang. Ketika aku lari kebelakang ternyata wanita itu sedang dipegang-pegang oleh Manager. Wanita itu berteriak minta tolong, namun Manager bilang kepadaku untuk keluar dari pintu dan lupakan apa yang terjadi, biarkan dia menikmati waktunya. Tanpa basa basi lebih lanjut, akupun memukul Manager itu hingga babak belur. Akhirnya aku dipecat, sedangkan wanita itu mengundurkan diri. Dia berkali-kali meminta maaf kepadaku.
Selama dua minggu setelah itu, aku belum berhasil mendapatkan pekerjaan baru. Uang di dompet begitu menipis. Akhirnya aku harus keluar dari Kostan karena tidak mampu membayar. Saat keluar itu aku sadar, barang yang kumiliki sangat sedikit. Tidak butuh waktu lama untuk berkemas, hanya satu buah tas ransel cukup untuk membawa semua barang milikku. Mungkin yang paling berharga kumiliki hanya Handphone Jadul dan Jaket Kulit yang sudah menemaniku lebih dari 5 tahun. Setelah keluar, aku hanya berjalan tanpa arah, akhirnya duduk di kursi taman ini sambil memandangi Pohon.
Aku sudah lelah hidup susah, namun kehidupan terlalu berharga untuk di akhiri begitu saja. Aku melihat isi dompetku, hanya cukup untuk makan beberapa hari lagi. Setelah kupikir, aku harus meminta bantuan Temanku, ini bukan situasi yang bisa kuhadapi sendiri.
Sebenarnya aku adalah orang yang sangat sulit meminta bantuan orang lain, aku lebih senang membantu daripada dibantu. Namun kali ini aku memang butuh bantuan,Entah sudah berapa lama sejak aku meminta bantuan seseorang. Aku berpikir akan meminta bantuan sahabat dekatku, Ado. Karena itu aku mulai berdiri dan berjalan ke arah rumahnya.
Selama dalam perjalanan, aku mengingat kembali perjalanan hidupku hingga selama 22 tahun ini. Aku kehilangan kedua orang tua di usia sangat belia, saat itu semua keluargaku tidak ingin mengambilku karena berpikir aku akan jadi beban, walaupun mereka sangat kaya. Akhirnya aku hidup sebatang kara, Aku bersekolah dengan usahaku sendiri. Bukan karena aku suka sekolah, namun agar aku memiliki pengetahuan yang kubutuhkan di kehidupanku nanti. Untuk bisa sekolah, aku bekerja paruh waktu serta dari teman-temanku sendiri. Misalnya dengan mengerjakan tugas mereka, pekerjaan rumah dan lain sebagainya. Untuk masa SMP dan SMA aku bersekolah dengan beasiswa, sehingga aku bisa cukup menikmati masa sekolah. Aku sangat menikmati seni bela diri, aku mempelajari berbagai seni bela diri. Saat itu untuk menghilangkan stres dan beban yang ku emban, bertarung adalah hal yang menyenangkan. Ketika sekolah, tempat paling mudah menemukanku adalah perpustakaan, Aku sangat hobi membaca. Menurutku itu liburan paling murah dan bermamfaat. Biasanya liburan sekolah, teman-teman bermain di Pantai, Mall atau ke Luar kota. Sedangkan aku menghabiskan liburan dengan kerja atau ke perpustakaan umum. Akibatnya aku menguasai banyak hal secara otodidak. Aku juga memiliki sangat banyak sahabat dan teman, apalagi setelah lulus sekolah semakin banyak orang yang kukenal. Aku memutuskan tidak kuliah karena ada teman yang membantuku mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus diperusahaan, namun hanya dalam 2 tahun perusahaan itu di tutup karena pengelapan pajak. Sejak itu aku bekerja secara serabutan. Menjual banyak barang, karena prinsipku yang tidak ingin berhutang apalagi berhutang pada teman.
Aku kembali ke saat ini, ternyata selama 22 tahun ini kehidupanku tidak berarti banyak. Aku harus lebih berusaha lagi mulai sekarang. Aku sampai di depan Rumah Ado, dia menyambutku dengan hangat. Sudah sekitar 1 bulan kami tidak bertemu, hanya kontak melalui telepon saja. Aku menceritakan masalahku kepada Ado. Dia segera merespond dengan baik, dia mengajakku tinggal di rumahnya saja. Rumah Ado adalah sebuah Rumah satu lantai dengan 3 kamar tidur, lengkap dengan ruang tamu, dapur serta kamar mandi. Dia tinggal dengan kedua adiknya, Eva dan Steve. Mereka semua memang blasteran, Ayah Ado dulu pengusaha sukses yang menikahi seorang wanita Inggris, namun suatu waktu Ayahnya mengalami ke bankrutan, sehingga Ibunya kabur dengan lelaki lain. Saat ini ayahnya bekerja di kota lain, mulai membangun Usahanya lagi, sedangkan Ado sendiri bekerja di bengkel. Kedua adiknya masih sekolah, Steve SMP dan Eva SMA.
Aku bilang kepadanya bahwa aku akan tinggal satu atau dua hari saja, sampai aku dapat kostan baru. Kemudian Ado mengajakku untuk kerja di Bengkel juga, karena dia tau kemampuanku. Memang aku juga menguasai mesin seperti motor dan mobil. Namun aku tidak ingin mengambil lapangan kerja sahabatku, jika aku bergabung dengannya, penghasilannya tentu turun. Sedangkan dia memiliki dua adik sebagai tanggungan.
"Pokoknya besok kamu ikut aja dulu, Ron.", Ado tetap mengajakku sambil memberikan secangkir teh hangat. Akupun mengiyakan. Ado akhirnya tidur dengan Steve, sedangkan aku memakai kamar Steve. Setelah mandi, akupun masuk kamar. Kemudian memikirkan hal-hal yang harus kulakukan kedepan nanti.Tiba-tiba handphoneku berbunyi, ternyata ada beberapa pesan yang masuk. Sahabat-sahabat dekatku bertanya kabarku, Aku membalas dengan mengatakan aku sedang di tempat Ado. Kebenaran mereka semua juga dekat dengan Ado, dan semua merasa lebih lega. Aku memang memiliki beberapa Sahabat yang seperti saudaraku sendiri, Ya salah satunya Ado. Kami kenal sudah 12 tahun. Sehingga kami sangat dekat, Eva sendiri sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Aku beruntung memiliki sahabat-sahabat seperti mereka, Ini alasan aku harus tetap hidup. Karena banyak orang yang lebih tidak beruntung dariku. Ketika sedang berpikir begitu, Akupun terlelap.
Hari baru telah tiba, Aku bangun. Melihat handphoneku menunjukan jam 5 pagi dan beberapa pesan masuk. Ternyata dari beberapa temanku yang wanita. Mereka mengatakan dapat kabar dari sahabat-sahabatku aku sedang kesulitan, Sahabatku memang cukup khawatiran. Aku membalas pesan mereka, " Aku baik-baik saja, namun aku mungkin tidak bisa ber-sms-an dulu untuk menghemat pulsa." Terkirim. Aku terkesan pelit sekali jadinya. Aku memang pernah dekat dengan beberapa wanita, namun tidak pernah sampai berstatus. Karena aku sadar bahwa aku hanya akan menyulitkan mereka. Aku bangkit dari ranjang, kemudian keluar untuk cuci muka. Kulihat Eva yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Berbeda dengan Ado dan Steve yang berambut hitam, Eva mengikuti ibunya dengan berambut pirang serta bermata biru. Namun dia tumbuh menjadi gadis yang begitu baik. Ketika Ayahnya jatuh dan Ibunya pergi, dia bisa tetap tenang dan memeluk Ayahnya. Selain itu dia juga begitu pandai memasak, tidak heran begitu banyak pria yang menginginkan dirinya di sekolahan. "Selamat pagi, Bang." dia menyapaku dengan senyumnya. "Pagi, Va. Maaf ngerepotin kamu, harus buat satu porsi Ekstra." Aku menyapa balik dengan senyum baru bangun tidur. Eva kemudian mengelengkan kepala, dia bilang bahwa dia senang bisa masak lebih banyak.
Akupun cuci muka, kemudian duduk di meja makan. Memandang jam di dinding masih menunjukan waktu 5.24 masih begitu awal. Aku tau Ado orang yang sangat sulit bangun pagi, dan temperamennya buruk ketika dibangunkan kecuali oleh aku. Karena aku lebih galak. Aku ke kamarnya, memanggil dia bangun untuk sarapan, Dia kemudian berjalan ogah-ogahan ke kamar mandi. Sementara si Eva tertawa cekikikan melihat itu, "Sudah lama tidak lihat Bang Ado bangun pagi." Eva kemudian menyiapkan sarapan ke meja makan.
Ado menjelaskan bahwa Steve sekolah agak siang, jadi dia akan tidur sebentar lagi. Kami sarapan dengan roti dan telur. Aku mengatakan bahwa sudah lama tidak sarapan pagi, Ado dan Aku tertawa. Namun Eva nampak sedih. " Bang, besok Eva buatin lebih banyak sarapannya." Eva memang anak yang baik. Lalu akupun menggodanya, bertanya apakah sudah ada pria yang cocok di hatinya. Ado langsung menatapku dengan mengerutkan dahinya sambil meminum teh hangatnya. Eva bilang, kalaupun ada harus melewati Abang Ado yang membuat masalah. Wajah Ado berubah kusut, dia memang tidak mau adiknya yang cantik ini pacaran dulu. Lalu aku mengatakan pada Eva, kalau memang sudah cocok bilang saja. Nanti biar aku yang tahan abangnya, daripada pria baik di ambil wanita lain. Eva tertawa, si Ado menusuk tanganku dengan garpu. Aku teriak, dan kami semua tertawa. Steve mengeram di kamarnya.
Kamipun mandi bergantian, dimulai dari Eva karena dia mau bersekolah. Baru kemudian Ado yang akan mengantar Eva ke sekolah. Dan Terakhir Aku. " Ron, Aku antar Eva dulu. Tunggu di depan ya." Ado kemudian berjalan, sementara aku sedang menggosok gigi tidak bisa menjawab. Setelah Mandi, Akupun ke kamar untuk berganti pakaian, mempersiapkan diri untuk ke bengkel. Handphoneku yang tadi ku chargepun baterainya sudah terisi penuh. Ada beberapa pesan lagi yang masuk. Aku kemudian menunggu di depan rumah Ado, sambil menunggu akupun membalas beberapa pesan tadi, Ternyata isinya hanya basa basi saja.
Ado pun tiba dengan motornya, kamipun berangkat ke Bengkel tempat dia bekerja.
Bersambung..