Arti di Balik Nama Conqueror Serendipity

Kenapa nama blog ini dinamakan Conqueror Serendipity? Bagi mereka yang mengerti arti kedua kata tersebut, tentunya dua hal ini sebenarnya tidak berhubungan.


Mengapa harus berteriak ?

Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya : "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab: "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

" Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.

Sang guru lalu berkata: "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.

Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan : "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta?

Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian? " Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.

Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan : "Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda."

Gara-gara Lubang di Jubah



Ada kisah mengenai biksuni yang tinggal di Sri Lanka. Ia adalah biarawati yang sangat bajik, tinggal di gua, sangat sederhana, dan tiap pagi pergi menerima derma makanan. Ia nyaris tak punya apa-apa.

Suatu hari, ia bangun pagi dan melihat seekor tikus telah menggigit dan melubangi jubahnya. Maka ia berpikir, "Aku akan meminta kain rombeng dan benang untuk menambal lubang ini." Jadi, ketika ia menerima derma makanan, ia meminta kepada seorang penyantunnya, "Bolehkah saya meminta secarik kain rombeng dan benang untuk menambal lubang di jubah saya? Tikus menggigitnya hingga berlubang."

Ia menambal lubang itu, namun tikus terus dan terus melubangi jubahnya. Maka biksuni ini berpikir, "Buang-buang waktu saja selalu meminta benang dan kain rombeng untuk menambal jubahku. Aku tahu apa yang benar-benar kubutuhkan: kucing! Kucing bisa mengusir semua tikus itu. Kucing tidak akan memakan tikus, yah.. kadang makan juga sih, tapi itu kan salah mereka."

Jadi, kali berikutnya ia menerima derma makanan, ia meminta kepada salah satu pendukungnya, "Bolehkah saya meminta seekor kucing?" Tentu saja selalu ada beberapa kucing ekstra di desa, jadi mereka memberinya seekor kucing.

Kini ia memiliki seekor anak kucing di guanya. Tentu saja anak kucing tidak bisa makan makanan manusia. Jadi kucing itu makin lama makin kurus, hingga biksuni itu membatin, "Aku akan meminta susu untuk kucing itu."

Jadi kali berikutnya ia menerima derma makanan, ia meminta susu kepada salah satu pendukungnya. Kucing itu senang saat mendapat susu, namun dia menginginkannya semangkuk sehari. Jadi biksuni ini berpikir, "Jika aku punya sapi... aku tak perlu lagi meminta susu."

Jadi kali berikutnya ia menerima derma makanan, ia meminta kepada salah satu pendukungnya, "Bolehkah saya meminta seekor sapi?" Para pendukungnya sangat setia dan mereka memberinya seekor sapi. Jadi ia bisa memerah susu sapi, memberikan susu itu kepada kucing, dan kucing itu mengusir tikus. Ia tidak perlu menambal jubahnya terus-terusan.

Tapi Anda pun tahu bahwa sapi pun harus makan. Jadi setiap kali ia menerima derma makanan, ia meminta segulung jerami atau rumput dari pendukungnya, dan rumput itu sangat berat untuk dipanggul pulang dan pergi. Jadi, setelah beberapa waktu ia berpikir, "Alih-alih meminta rumput setiap hari, aku sebaiknya meminta ladang."

Jadi kali berikutnya ia menerima derma makanan, ia meminta kepada salah satu pendukungnya, "Jika kalian tidak keberatan, bisakah saya meminta sebidang ladang?" Para pendukungnya begitu dermawan dan berpikir bahwa itu adalah karma baik, mereka memberikannya sepetak ladang.

Biksuni malang ini kini punya ladang, namun ia harus merumput, menabur benih rumput, memotongnya lagi, memanggul rumput, kembali untuk memberi makan sapi, memerah susu, memberi makan kucing dan seterusnya.

Ia berpikir, "Apa yang benar-benar kuperlukan adalah seorang bocah, supaya ia yang mengurus sapi, dan barulah aku bisa meditasi." Jadi kali berikutnya ia menerima derma makanan, ia meminta kepada salah satu pendukungnya seorang anak laki-laki, dan para pendukungnya berkata, "Kami punya anak laki-laki. Mungkin ia bisa belajar banyak dari Anda."

Jadi, ia punya anak laki-laki dan tentu saja anak itu sangat nakal dan perlu diajari banyak hal. Anak itu juga tidak bisa tinggal dalam gua, apalagi bersama seorang biksuni! Ia pun harus membangun gubuk terpisah untuk bocah itu.

Jadi, kali berikutnya ia menerima derma makanan, ia meminta kepada salah satu pendukungnya, "Saya butuh papan, kayu, dan bahan bangunan untuk membangun gubuk untuk anak laki-laki asuhan saya."

-------------------

Semuanya bermula dari lubang di jubah.... Ini adalah kisah bagus yang senantiasa saya camkam dalam batin, mengenai betapa banyaknya hal yang benar-benar kita butuhkan, dan kita bisa lihat. Biksuni ini mulai dari lubang di jubah, dan kini ia sudah memiliki seluruh desa dan ladangnya!

Kita pun bisa melihat setiap langkah dari perjalanan kita, dan kita membenarkan keinginan kita, kemauan kita. Hingga kadang pada akhir hayat, kita bisa melihat wisma besar dan mobil mewah kita, semua harta benda kita yang berawal seperti lubang di jubah biksuni malang itu. Jadi, apa yang benar-benar kita inginkan? Semakin banyak yang kita inginkan, semakin banyak konflik yang kita tuai.

Arti di Balik Nama Conqueror Serendipity

http://inanutshellca.files.wordpress.com/2012/04/everything-happens-for-a-reason.jpg 

 Kenapa nama blog ini dinamakan Conqueror Serendipity? Bagi mereka yang mengerti arti kedua kata tersebut, tentunya dua hal ini sebenarnya tidak berhubungan. Karena jika ditelaah dengan baik maka masing-masing kata tersebut adalah :

Conqueror : Penakluk

Serendipity : Mencari sesuatu namun menemukan hal lain yang lebih baik ; Kejadian tak terduga yang menyenangkan.

Tentunya dua hal tersebut ketika menjadi sebuah nama tidak memiliki kesambungan yang pas, namun tujuan pemberian nama tersebut sebenarnya adalah :

Conqueror adalah nama Group yang saya ciptakan untuk berbagai usaha yang telah saya miliki maupun yang nanti akan saya miliki, termasuk blog ini akan memiliki embel Conqueror.

Sedangkan Serendipity adalah nama Blog ini yang sebenarnya, dimaksudkan ketika anda berhasil menemukan blog ini, bukan hanya mendapatkan yang anda cari namun juga hal lain yang bermamfaat untuk anda. Itulah salah satu tujuan dari blog ini, selain menjadi Handbook Online pribadi saya, dan juga materi latihan untuk para pelajar saya. 

Semoga blog ini membawa mamfaat yang baik bagi para pengunjungnya


Salam,

Ron

Semua Terjadi Karena Suatu Alasan

 http://25.media.tumblr.com/tumblr_m5jgdhml7A1ryxo0qo1_500.jpg

Doa Yang Tidak Dikabulkan - Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center .

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan , percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih orang lain yaitu Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku?

Bagian diriku yang mana yang kurang?Mengapa aku diperlakukan kejam ?
Aku berpaling pada ayahku. Katanya: “Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku: “Semua terjadi karena suatu alasan.” Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang….

Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

--

Kebetulan? Who knows?

Yang Tak Terduga dari Ketidaksengajaan

 http://25.media.tumblr.com/9563307cc7070e8ade3e69da1afc79fd/tumblr_mgqf14Xvbu1rf11e5o1_500.jpg

Apa reaksi anda ketika disuatu jalan, menemukan segepok uang dalam jumlah besar? Bahagia tentunya. Lain cerita jika usai sholat jum’at, anda mendapati bahwa sandal yang anda pakai berbeda warna pada saat keluar dari pintu masjid? Tentu saja karena tidak disengaja. Pastilah anda jengkel dibuatnya. Ketidaksengajaan memiliki kesan yang beragam atau bahkan saling bertolakbelakang. Tergantung momennya. Ada sesuatu yang menarik tentang makna kebetulan, ketika Profesor Roberts mengatakan bahwa sesungguhnya lebih banyak hal bermanfaat yang ditemukan secara kebetulan, dibandingkan hasil dari pencarian yang disengaja. Beliau mengacu pada banyak penemuan-penemuan sains yang tidak disengaja.

Marilah kita perhatikan dengan seksama apa yang diungkapkan oleh Royston M. Roberts, dalam bukunya “Serendipity, Accidental Discoveris in Science”. Beliau merangkum berbagai penemuan-penemuan dalam bidang sains, seperti fisika, kedokteran, kimia, biologi, arkeologi, industri hingga astronomi, yang ternyata sebenarnya ditemukan secara serendipity atau tidak sengaja. Beberapa penemuan beliau sebut pseudoserendipity atau serendipity semu, karena beberapa sebab. Istilah serendipity itu sendiri muncul pertama kali sekitar tahun 1754, dalam sebuah surat dari Horace Walpore kepada Sir Horace Mann. Surat itu menunjukan ketertarikan Walpore pada sebuah kisah “Tiga Pangeran dari Serendip”, tentang keberuntungan tiga pangeran yang selalu menemukan sesuatu, baik secara perhitungan maupun tak sengaja, yang sebenarnya tidak sedang mereka cari. Belakangan kata serendipity semakin sering dipakai dalam mengungkap berbagai fenomena, termasuk sains.

Dalam pembicaraan yang berbau sains, istilah sengaja atau tidak sengaja memang masih kurang familier. Karena dalam metode ilmiah, faktor kesengajaan sepertinya tidak mendapatkan tempat dalam dunia penelitian ilmiah. Karena mengandung ketidakpastian dan tidak bisa diprediksi, apalagi diulang. Dan sepertinya Roberts mencoba untuk menempatkan faktor ketidaksengajaan dalam jajaran metode ilmiah. Jadi, mari kita cermati beberapa ketidaksengajaan yang terjadi pada sains yang diungkap oleh Roberts. Walaupun sebenarnya bukan itu tujuan utama tulisan ini, serendipity ternyata memiliki sesuatu yang sangat erat kaitannya dengan pemahaman religius seseorang, khususnya pada bentuk keyakinan religius seseorang. Serendipity memiliki potensi menjadikan seseorang ateis, bahkan mereka para ilmuwan dengan otak cerdas sekalipun.

Dalam dunia arkeologi, sebagaimana yang disampaikan arkeolog Mary Leakey, bahkan hampir tidak pernah menemukan sesuatu yang telah direncanakan. Kebanyakan benar-benar berhasil tanpa benar-benar mencoba. Sebenarnya memang, banyak penemuan arkeologi terkenal ditemukan oleh orang-orang yang tidak bermaksud untuk menemukannya. Penemuan patung terakota prajurit sebanyak 6000 buah di Republik Rakyat Cina pada tahun 1974. Dua tahun kemudian disusul penemuan baru 1.400 patung manusia dan kuda. Pada saat yang hampir bersamaan ditemukan pula 73 prajurit dalam posisi berjaga. Letak penemuan ribuan patung berukuran sebenarnya ini berada pada 3 buah kubah yang terletak sekitar 600 meter di bawah permukaan tanah. Dipercaya patung-patung ini dibuat 2.200 tahun lalu pada saat kerajaan dipimpin oleh Kaisar Qin Shihuangdi, yang juga terkenal karena memerintahkan dibangunnya Tembok Raksasa (The Great Wall). Lalu, siapa yang pertama kali menemukannya? Ternyata hanyalah seorang penggali sumur. Tentu saja secara serendipity.

Di Afrika Selatan, tahun 1924, “Anak Taung” ditemukan tidak sengaja oleh para pekerja yang sedang menggali kapur di gua Taung dekat Johannesburg.

“Manusia Netherland”, ditemukan oleh para penambang di sebuah gua di Jerman pada tahun 1857. Manusia Tollond, Manusia Lindow, Piringan Aztec Mexico City dan masih banyak fosil-fosil lain ternyata ditemukan oleh para pekerja bangunan tanpa ada maksud untuk mencarinya. Ketika para pekerja tersebut menemukan sesuatu yang aneh, mereka selanjutnya melaporkannya pada arkeolog. Jadi pada dasarnya bukanlah arkeolog tersebut yang menemukan. Peran mereka tak lebih hanya sekadar meneliti dan meneruskan penggalian setelah ditemukan pertama kali oleh para pekerja tersebut.

Mungkin kita perlu beralih pada bidang lain, fisika misalnya. Pernah mendengar cerita ada seorang ilmuwan yang berlari bugil sambil berteriak “Eureka! Eureka!”, ketika mendapati air pada bak mandinya tumpah tatkala dia mencelupkan diri ke bak mandi tersebut? Peristiwa ini bukanlah dongeng semata. Tumpahnya air dari bak mandi tersebut memberinya ide jalan keluar untuk membedakan antara emas murni dan emas campuran pada mahkota sang raja. Ya, dialah Archimedes. Archimedes memang seorang ilmuwan, namun insiprasi yang dia dapatkan ketika itu tidaklah secara sengaja alias serendipity. Keberuntungan Archimedes diikuti oleh keberuntungan W.C. Rontgen dalam menemukan sinar X. Fenomena sinar X yang betul-betul baru pada saat itu, memberikan kemajuan yang sangat berarti dalam perkembangan teknologi hingga dimasa sekarang. Dan hadiah Nobel pertama kali tahun 1901 dalam bidang fisika yang diterima Rontgen, merupakan pengakuan pencapaian berharga dalam dunia sains yang ditemukan secara tidak sengaja, meskipun oleh seorang ilmuwan sekalipun.

Cerita lain tentang penemuan kinina sebagai obat dari malaria, konon bukan hasil penemuan seorang dokter. Namun merupakan penemuan dari seorang Indian yang hidup di pegunungan Andes. Karena demam yang dideritanya, maka ia tersesat dalam kondisi kehausan. Dan secara tidak sengaja, bahkan terpaksa, dia meminum air kolam yang telah tercemar quina-quina. Meskipun pahit, namun si Indian justru berangsur sembuh dan mengabarkan berita ini ke seluruh penduduknya. Singkat cerita berita itu pun sampai ke telinga para misionaris Jesuit di awal abad ketujuh belas. Penelitian terhadap kinina mungkin dilakukan setelah para misionaris tersebut menyebarkan kasiat kinina ke orang-orang. Cerita aspirin, obat sulfat, sefalosporin dan siklorporin tidak jauh berbeda dengan kina, ditemukan secara tak sengaja. Obat-obat tersebut justru ditemukan, pada saat peneliti ingin mengujinya untuk tujuan tertentu, namun justru tujuan lain yang tercapai. Bahkan dalam kadar yang sama sekali berbeda dan kadang-kadang lebih penting. Jadi, apa garis merah antara kinina, aspirin, sinar X, terakota dan sejumlah penemuan terkenal lainnya? Jawabnya: serendipity!!


Serendipity: Sesuatu Tentang Hidup

 http://definitelyfilipino.com/blog/wp-content/uploads/2011/12/serendipity3.png

Hidup ini bukanlah tentang mengumpulkan nilai. Bukan tentang berapa banyak orang yang menelponmu dan juga bukan tentang siapa pacarmu, bekas pacarmu, atau orang yang belum kau pacari. Bukan tentang siapa yang telah kau cium, olah raga apa yang kau mainkan, atau cowok atau cewek mana yang menyukaimu. Bukan tentang sepatumu, atau rambutmu atau warna kulitmu atau tempat tinggalmu atau sekolahmu atau kampusmu.

Bahkan juga bukan tentang nilai-nilai ujianmu, bukan tentang uang, baju, atau perguruan tinggi yang menerimamu atau yang tidak menerimamu. Hidup ini bukan sekedar apakah kau memiliki banyak teman, atau apakah kau seorang diri, dan bukan tentang apakah kau diterima atau tidak oleh lingkunganmu.

Hidup bukan sekedar tentang itu.

Namun, hidup ini adalah tentang siapa yang kau cintai dan kau sakiti. Tentang bagaimana perasaanmu terhadap dirimu sendiri. Tentang kepercayaan, kebahagiaan dan welas asih. Hidup adalah tentang menghindari rasa cemburu, iri hati, mengatasi rasa tidak peduli, dan membina kepercayaan. Tentang apa yang kau katakan dan yang kau maksudkan. Tentang menghargai orang apa adanya dan bukan karena apa yang dimilikinya. Dan yang terpenting, hidup ini adalah tentang memilih untuk menggunakan hidupmu untuk menyentuh hidup orang lain dengan cara yang tak bisa digantikan dengan cara lain. Hidup adalah pilihan-pilihan itu...

Ya, bagi saya pribadi, hidup ini adalah tentang memilih untuk menggunakan hidup saya untuk menyentuh hidup orang lain dengan cara yang tak bisa digantikan dengan cara lain. Ketika saya mulai mengenali hal itu, saya pun mulai menggunakan hal itu sebagai salah satu misi hidup saya yang terpenting—menyentuh hidup orang lain dengan cara yang tak bisa digantikan dengan cara lain ataupun oleh orang lain.

Dan hidup ini begitu menakjubkan, bukan? Ketika kita telah menemukan misi kita dalam hidup ini, maka hidup ini pun akan membawakan begitu banyak hal baru bagi kehidupan kita—hal-hal baru yang akan semakin memperkaya batin kita sekaligus mendewasakan nalar kemanusiaan kita.

Ketika kita membuka pintu hati kita untuk orang lain, maka kehidupan pun akan membukakan pintunya untuk kita. Dan jika kehidupan telah membukakan pintunya untuk kita, maka tak ada seorang pun yang dapat menutupnya kembali.

Ketika kehidupan telah membentangkan pintunya untuk kita, tak ada lagi batas yang memisahkan antara diri kita dengan hidup—kita menyatu bersamanya. Dan apakah yang lebih indah selain menyadari bahwa kita telah bisa menyatu dengan hidup...?

Salah satu misteri dalam kehidupan ini adalah sesuatu yang dalam literatur Barat disebut sebagai ‘serendipity’. Secara definitif, saya tidak dapat menemukan arti atau makna dari kata itu. Saya sudah mencoba mencari arti dari kata itu di buku kamus bahasa Inggris, bahkan yang paling lengkap, namun tidak ada. Saya sudah mencoba mencarinya di kamus elektronik di komputer saya, namun ketika saya mengetikkan kata itu, arti yang muncul dari ‘serendipity’ adalah ‘serendipas’. Nah, saya juga tidak tahu apa itu serendipas—saya pikir itu salah satu kosakata bahasa Indonesia yang tidak dikenal. Maka saya pun mencoba mencarinya di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Namun hasilnya nihil. Kamus yang besar itu sama sekali tak memuat suku kata ‘serendipas’. Rupanya, arti ‘serendipity’ itu sendiri sudah mengandung kemisteriusan tersendiri.

Nah, apa sesungguhnya serendipity itu?

Saya sudah mencoba mendefinisikannya dalam sebuah kalimat berdasarkan pengertian dan pemahaman saya akan kata itu, namun tetap saja saya tak mampu mendefinisikannya dengan simpel dan baik. Saya sudah mencoba mencarinya dalam ratusan buku yang sekiranya memuat kata itu beserta definisinya, namun tidak juga berhasil menemukannya. Satu-satunya kalimat yang bisa dirujukkan untuk menjadi definisi dari kata serendipity adalah sebuah kalimat yang ditulis oleh Kahlil Gibran dalam bukunya yang agung, The Prophet.

Di dalam The Prophet, saya menemukan kata-kata, yang bagi saya, mampu melukiskan apa yang disebut sebagai serendipity itu. Inilah kata-katanya, “Jangan mengundang makan orang kaya ke rumahmu. Kau akan dibalas dengan undangan makan ke rumahnya. Undanglah orang miskin untuk makan ke rumahmu. Mereka tidak bisa membalasmu, maka alam yang akan membalasmu. Dan bila alam membalasmu, maka tunggulah datangnya keajaiban...”

Kata-kata yang ditulis Gibran itu bukanlah definisi untuk kata serendipity, tetapi kata-kata itulah yang menurut saya paling tepat untuk dijadikan sandaran bagi pendefinisian kata serendipity—salah satu misteri kehidupan yang agung itu.

Jadi, sekali lagi, apakah serendipity itu? Sekarang kita mulai memiliki suatu bayangan—bahwa ketika kita mengulurkan tangan pada orang lain yang tak mampu membalas uluran tangan kita, maka kehidupan ini yang akan membalasnya—kehidupan akan mengulurkan tangannya kepada kita. Dan jika kehidupan ini mengulurkan tangannya kepada kita, persoalan apa yang tak dapat kita atasi...?

Begitu pun sebaliknya. Ketika kita melakukan kejahatan terhadap orang lain yang tak mampu membalas kejahatan kita, maka kehidupan ini yang akan membalasnya—kehidupan akan membalaskan kejahatan yang setimpal. Dan jika kehidupan ini melancarkan pembalasan kepada kita, kemanakah dapat bersembunyi, dan siapa yang sanggup menolongnya...?

Ketika kita semakin menyelami kehidupan, kita akan semakin tahu betapa menakjubkannya hidup ini dan betapa ajaibnya cara kehidupan mengatur dan menjalankan aturan-aturannya. Tanamkanlah biji mangga ke dalam bumi yang kita tinggali, maka biji mangga itu tidak akan menumbuhkan pohon durian—ia akan menumbuhkan pohon mangga, sesuai dengan biji benihnya. Begitu pun, segala hal dan perbuatan yang kita tanamkan dalam hidup ini, maka tepat seperti itulah yang akan diberikan hidup untuk diri kita. Jika kita menanamkan kebaikan, maka hidup akan memberikan kebaikan. Jika kita menanamkan kejahatan, maka hidup pun akan memberikan hal yang sama. Sebagaimana biji mangga tidak akan menumbuhkan pohon durian, tepat seperti itulah kehidupan yang kita jalani ini, ia hanya merefleksikan apa yang telah kita tanamkan kepadanya.

Selama bertahun-tahun saya menyaksikan dan terus menyaksikan, betapa hidup yang kita jalani ini tak pernah berubah menjalankan hukum-hukumnya yang abadi. Saya menyaksikan seorang kawan yang melakukan tabrak lari, dan sekian waktu kemudian ia pun menjadi korban tabrak lari. Saya menyaksikan lelaki-lelaki yang memperdaya perempuan dengan hartanya, dan kemudian kehidupan ini pun memperdaya lelaki-lelaki itu hingga benar-benar tak berdaya. Saya menyaksikan perempuan-perempuan yang mengkhianati cinta kekasihnya, dan bertahun-tahun kemudian—bahkan ketika si perempuan itu telah lupa pada pengkhianatannya—kehidupan ini menjungkirkannya ke dalam lubang jeram pengkhianatan.

Begitu pun, saya menyaksikan tangan-tangan yang pemurah, yang penuh ketulusan terulur kepada setiap orang yang membutuhkan, dan saya membuktikan bahwa kehidupan pun selalu mengulurkan tangan kepadanya. Tangan yang mengulurkan bunga yang harum kepada orang lain akan ikut berbau harum, meskipun bunga itu telah berpindah tangan, bukan?

Ketika kita menyadari hakikat hidup yang semacam itu, kita pun tak akan lagi mengatakan bahwa hidup ini tidak adil. Hidup sudah berlaku dengan sedemikian adil—ia hanya menumbuhkan benih yang ditanam, ia hanya merefleksikan apa yang pernah kita berikan.

Apakah kalau kau menyakiti seseorang, kemudian orang itu pasti akan membalas menyakitimu? Belum tentu! Tetapi saya hampir bisa memastikan bahwa suatu saat akan ada orang lain yang akan datang dalam hidupmu dan kemudian menyakitimu. Kau akan menerima sesuatu yang tepat sama seperti yang pernah kau berikan—tak peduli kau menyadarinya ataukah tidak.

Begitu pun ketika kau membahagiakan hati seseorang, atau membantu kesulitan seseorang. Mungkin orang yang kau tolong itu tidak mampu membalas kebaikanmu. Tetapi kau bisa membuktikan bahwa ketika kau sendiri membutuhkan pertolongan, selalu ada orang-orang yang akan datang menolongmu—tak peduli kau menyadarinya ataukah tidak.

Hidup ini tidak buta. Ia selalu melihat tangan mana yang mengulurkan bunga kepada orang lain, ia pun selalu menyaksikan tangan mana yang menancapkan duri kepada orang lain. Siapa yang mengulurkan bunga akan ikut mendapatkan wanginya, siapa yang menancapkan duri akan ikut berdarah. Karena hidup ini sudah sedemikian adil, rasanya kita pun perlu menjalaninya dengan adil pula, bukan?

Terkadang, cara kehidupan ini membalas perbuatan kita tidak persis sama dengan apa yang (pernah) kita lakukan, namun bahwa pembalasan itu ada, itu adalah fakta—dan itulah yang disebut serendipity.

Kasih Selembut Awan

Ember Bocor Yang Sedih

Udara dingin pegunungan di sela deraian daun. Kemilau jingga keemasan mentari senja tampak memantul berganti-gantian di permukaan air yang beriak dalam dua ember yang dipikul seorang petani. Sebuah rutinitas yang tampaknya dijalani dengan keriangan hati.

Dalam hempasan nafas lelah yang panjang, tersirat binar kepuasandalam raut wajah sang petani pembawa ember air tesebut. Akan tetapi, suatu kala terjadi sesuatu diantara dua ember yang dipikul petani tersebut. Akan tetapi, sutu kala terjadi sesuatu di antara dua ember yang di pikul petani tersebut. Salah stu ember berujar kepada ember yang lain, “hei, cobalah lihat dirimu, ember bocor, bercerminlah. Sadarkah engkau setiap hari membuang setengah dari air yang terisi penuh?” Ember bocor kaget dan menyadari ada sebuah lubang hakus pada dirinya. Sepanjang perjalanan, air yang dibawahnya perlahan menetes keluar dan tersisa setengahnya ketika sampai di tujuan.

Kesedian mulai mengaduk-aduk perasaan ember bocor. Ia mulai merasa dirinya ember yang tak berguna. Ia tak dapat memberikan yang terbaik terhadap sang petani. Setiap hari ia hanya merasa menjadi beban, merugikan petani setengah dari kapasitas yang mestinya bisa ia bawa. Hari demi hari, batin ember bocor terasa semakin hampa dan tersiksa.

Suatu hari, petani menyadari ember bocor yang sedang menangis. Petani menanyakan alasan mengapa ember bocor merasa sedih. Setelah memahami semuanya, petani tersenyum sambil memandang hamparan langit biru, kemudian berujar, “tahukah engkau, kenapa aku bahagia memilikimu? Meskipun sepanjang perjalanan engkau menetes separuh air yang dibawa....”

Ember bocor terperanjat dan bertanya, “ke-ke-kenapa?” petani melanjutkan, “lihatlah hamparan jalan yang setiap hari kita lalui setiap hari. Salah satu sisi jalan ditumbuhi oleh bunga-bunga yang indah bukan? Tahukah engkau bunga-bunga itu tumbuh karena tetesan air yang jatuh darimu? Karena ‘ketidaksempurnaan’ yang engkau milikilah, bunga-bunga indah tersebut tumbuh berkembang!”

Suatu perasaan ringan spontan menggelora dalam diri ember bocor. Ya, dalam segenap kekurangan dan keburukan, ternyata masih ada keindahan yang dapat tumbuh. Keindahan yang mengalir bersama kuntum-kuntum bunga yang terseyum.

 Ibu Gajah yang Buta

Dahulu kala, di sebuah kaki bukit di pegunungan Himalaya, di dekat sebuah kolam teratai, lahirlah seekor bayi gajah. Bayi gajah ini luar biasa indah menawan, putih bersih seperti salju dengan wajah yang sedikit bersemu kemerahan seperti warna batu karang. Belalainya berkilau indah bagaikan utas tali yang berwarna keperakan, gadingnya yang kuat dan kokoh membentuk sedikit lengkungan yang manis.

Ia selalu mengikuti ibunya ke manapun. Ibu Gajah memetik daun terlembut dan buah mangga termanis dari pohon-pohon yang tinggi dan kemudian memberikannya. “Kamu dulu, baru Ibu,” Ibu Gajah berkata. Ia kemudian dimandikan oleh ibunya di kolam teratai yang sejuk diantara semerbak keharuman bunga. Dengan belalainya, Ibu Gajah menghisap air lalu menyemprotkannya ke kepala dan punggung anaknya hingga bersih mengkilap. Kemudian Anak Gajah ini diam-diam mengisi belalainya, dan dengan hati-hati menyemprotkan tepat ke dahi ibunya. Tanpa berkedip, Ibu Gajah balas menyemprotkan air. Balas membalas menyemprot, mereka dengan gembira saling membasahi satu sama lain. Splish! Splash!

Setelah lelah bermain, mereka kemudian beristirahat di atas tanah yang lembut dengan kedua belalai melengkung dan saling membelit satu sama lain. Di bawah bayang-bayang sore hari, Ibu Gajah beristirahat di balik keteduhan pohon jambu air, sambil melihat putranya bermain dengan penuh keriangan bersama anak-anak gajah lainnya.

Gajah kecil tumbuh dan tumbuh hingga ia menjadi gajah tergagah dan terkuat dalam kawanannya. Pada saat yang bersamaan, Ibu Gajah pun menjadi semakin tua. Gadingnya mulai retak dan menguning, dan tidak lama kemudian Ibu Gajah menjadi buta. Anak Gajah yang telah tumbuh dewasa dan kuat ini kemudian memetik daun terlembut dan buah mangga termanis dari pohon-pohon yang tinggi dan memberikannya kepada ibunya yang telah tua dan buta yang amat ia sayangi. “Ibu dulu, baru Aku,” ia berkata.

Ia memandikan ibunya di kolam teratai yang sejuk diantara semerbak keharuman bunga. Dengan belalainya, ia menyemprotkan air ke kepala dan punggung ibunya hingga bersih mengkilap. Setelah itu, mereka kemudian beristirahat di atas tanah yang lembut dengan kedua belalai saling membelit satu sama lain. Di bawah bayang-bayang sore hari, Anak Gajah menuntun ibunya untuk beristirahat di balik keteduhan pohon jambu air. Ia kemudian pergi bersama gajah-gajah yang lain.

Suatu hari seorang raja pergi berburu dan melihat seekor gajah putih yang begitu indah. “Luar biasa indah! Aku harus memilikinya sebagai peliharaan untuk ditunggangi!” Raja lalu menangkap gajah tersebut dan membawanya ke kandang istana. Raja memberikan kain sutra dan permata yang indah serta untaian kalung bunga teratai kepada gajah tersebut. Raja juga memberikannya rumput manis dan buah-buahan yang lezat serta air murni yang segar untuk diminum.

Akan tetapi, gajah tersebut tidak mau makan ataupun minum. Ia terus menerus menangis, dan menjadi semakin kurus dari hari ke hari. “Gajah yang mulia,” Raja berkata, “Aku menyayangimu dan memberimu sutra dan permata. Aku juga memberikan makanan terbaik dan air termurni, namun Engkau tidak juga mau makan dan minum. Lalu apa yang bisa membuatmu bahagia?” Gajah tersebut menjawab, “Sutra dan permata, makanan dan minuman tidak membuatku bahagia. Ibuku yang sudah tua dan buta sedang sendirian di hutan tanpa ada seorangpun yang merawatnya. Walaupun aku akan mati, aku tidak akan makan dan minum sebelum aku memberikannya terlebih dahulu kepada Ibu.”

Raja terharu dan berkata, “Tidak pernah aku menyaksikan kebaikan yang sedemikian rupa, bahkan diantara manusia. Tidaklah benar untuk mengurung gajah ini.” Setelah dilepaskan, gajah tersebut segera berlari diantara bebukitan mencari ibunya. Ia menemukan ibunya di tepi kolam teratai. Ibu Gajah berbaring di atas lumpur, terlalu lemah untuk bergerak. Dengan air mata yang membasahi pelupuk matanya, Anak Gajah tersebut mengisi belalainya dengan air dan menyemprotkan ke kepala dan punggung ibunya hingga bersih mengkilap. “Apakah hujan?” Ibu Gajah bertanya-tanya, “atau anakku telah kembali?” “Ini anakmu, Ibu!” ia berseru, “Raja telah membebaskan aku!” Ketika ia membersihkan mata ibunya, terjadi keajaiban. Penglihatan ibunya pulih kembali. “Semoga Raja hari ini berbahagia sebagaimana kebahagiaanku bisa melihat anakku kembali!” Ibu Gajah berkata.

Anak Gajah kemudian memetik daun terlembut dan buah mangga termanis dari sebuah pohon dan memberikannya kepada ibunya, “Ibu dulu, baru Aku.”
 

Hachiko, Anjing yang Setia
































Katak yang Nakal

Seekor anak katak tinggal bersama ibunya yang telah menjanda di sebuah kolam yang besar. Anak katak ini luar biasa nakal dan pembuat onar, ia tidak pernah mau mendengarkan nasehat ibunya dan selalu membuat ibunya sedih dan juga malu.

Kalau Ibu Katak menyuruhnya pergi bermain ke bukit, ia pergi ke tepi pantai. Kalau ibunya minta ia ke desa atas, ia ke desa bawah. Kalau ibunya menyuruhnya ini, ia melakukan itu. Apapun yang ibunya katakan, ia selalu melakukan kebalikannya.

“Apa yang harus aku lakukan terhadap anak ini?” Ibu Katak mengomel. “Kenapa ia tidak bisa bersikap seperti anak-anak katak lainnya? Mereka selalu mendengarkan dan melakukan apa yang disuruh; mereka juga selalu patuh dan baik hati. Aku tidak tahu ia akan jadi apa kalau ia terus bersikap seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk menghentikan kebiasaan buruknya.” Ibu Katak menghela nafas panjang.

“Ha! Ha! Ha!” Anak Katak tertawa. “Hentikan semua omelan itu. Ibu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja sebagaimana adanya.”

“Benarkah itu?” tanya Ibu Katak. “Lalu kenapa kamu bahkan tidak bisa bersuara dengan benar? Kamu bahkan tidak mengeluarkan suara layaknya seekor katak. Sini, Ibu ajari kamu.” Sambil tersenyum, Ibu Katak mengeluarkan suara ‘Kruok! Kruok!’, “Sekarang kamu coba!”

Sambil menyeringai lebar, Anak Katak mengeluarkan suara ‘Kruik! Kruik!’

“Kenapa kamu nakal sekali! Apa kamu ingin membuat Ibu mati penasaran?!” teriak Ibu Katak. “Dengarkanlah Ibu kalau kamu ingin menjadi katak yang baik. Sekarang kamu…”

“Kruik! Kruik!” sahut si Anak Katak, sambil melompat pergi.

Hari demi hari Ibu Katak memarahi anaknya, tapi si Anak Katak tetap saja melakukan apa yang ia inginkan dan selalu melakukan kebalikan dari apa yang dikatakan oleh ibunya. Ibu Katak merasa resah dan sedemikian kuatir mengenai anaknya sampai-sampai Ibu Katak jatuh sakit. Tetap saja, si Anak Katak masih nakal dan bertingkah laku sesukanya.

Suatu hari Ibu Katak, terbaring di ranjang, memanggilnya, “Anakku,” ia berkata, “Ibu merasa tidak akan hidup lama lagi. Ketika Ibu mati, janganlah kubur Ibu di gunung, kuburlah Ibu di samping sungai.” Ibu Katak mengatakan ini karena ia tahu bahwa anaknya akan melakukan kebalikan dari apa yang disuruhnya.

Beberapa hari kemudian, Ibu Katak tiada. Anak Katak menangis dan terus menangis. “Oh, Ibuku yang malang! Aku telah membuat Ibu demikian resah karena tingkah lakuku. Kenapa aku tidak pernah mendengarkan kata-kata Ibu?!” Anak Katak menyalahkan dirinya. “Sekarang Ibu telah pergi. Aku telah membunuh Ibu. Aku membunuh Ibu.”

Anak Katak teringat kembali masa-masa ketika bersama ibunya dan semua masalah serta kenakalan yang telah ia lakukan terhadap ibunya. Lalu ia berkata dalam hati, “Aku selalu melakukan kebalikan dari apa yang Ibu suruh karena aku mengira itu menyenangkan. Akan tetapi kali ini aku akan melakukan sesuai permintaan terakhir Ibu.”

Jadi, Anak Katak mengubur ibunya di samping sungai, walaupun ia merasa hal itu kuranglah bijaksana.

Beberapa minggu kemudian, terjadilah hujan badai. Hujan yang sedemikian deras menyebabkan sungai meluap. Anak Katak tidak bisa tidur karena terus mengkhawatirkan kuburan ibunya akan terhanyut oleh luapan air. Akhirnya ia pergi untuk menjaga kuburan ibunya.

Di tengah guyuran hujan, Anak Katak duduk, dan terus menerus menangis, “Kruok! Kruok! Mohon janganlah menghanyutkan Ibu!” Dan itulah yang dilakukan oleh si Anak Katak setiap kali hujan turun.

Dan sejak saat itulah, katak-katak akan selalu bersuara “Kruok! Kruok!” setiap kali hujan turun.